periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.353 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.326. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga 60 poin.
“Dari sentimen eksternal, penguatan dolar AS didorong oleh rencana Presiden AS Donald Trump yang bersiap melakukan blokade angkatan laut berkepanjangan terhadap Iran. Langkah ini berpotensi memicu Iran untuk terus memblokir Selat Hormuz sebagai balasan, yang merupakan jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia,” ulas Ibrahim, Kamis (30/4).
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan telah melambat sejak akhir Februari, memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, upaya AS membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali jalur tersebut belum mendapat dukungan penuh, bahkan Trump disebut mengecam sejumlah anggota NATO yang enggan terlibat secara militer.
Perundingan antara AS dan Iran juga belum menunjukkan kemajuan berarti di tengah perbedaan pandangan terkait aktivitas nuklir Iran. Meski gencatan senjata diperpanjang tanpa batas waktu, kedua pihak masih menolak berbagai upaya mediasi, sehingga meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor beralih ke dolar AS sebagai aset safe haven.
Selain itu, dinamika kebijakan moneter AS turut menjadi perhatian pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa independensi bank sentral berada dalam risiko, di tengah proses transisi kepemimpinan yang melibatkan Kevin Warsh. Pernyataan ini menambah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga ke depan.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperkuat oleh lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga Brent tercatat menembus US$122 per barel dan WTI di kisaran US$108 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel. Kenaikan ini meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia dan berpotensi menekan neraca transaksi berjalan serta ketahanan fiskal.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan dapat menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp10 triliun sampai Rp13 triliun per tahun. Kondisi ini berisiko membebani APBN 2026 di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik.
Selain itu, kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing turut menekan rupiah, dengan potensi outflow diperkirakan mencapai Rp15 triliun. Kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik membuat pergerakan rupiah semakin rentan.
Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi secara komprehensif, baik di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur. BI juga menjaga daya tarik instrumen rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“BI perlu menjaga komunikasi yang kuat agar pasar tetap yakin bahwa pelemahan rupiah tidak akan dibiarkan tidak teratur. Kenaikan suku bunga sebaiknya menjadi opsi terakhir jika tekanan terhadap rupiah semakin meningkat,” ujar Ibrahim.
Untuk perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.350 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Tinggalkan Komentar
Komentar