Periskop.id – Pejalan kaki kini dapat kembali menyeberang di lokasi bekas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengoperasikan pelican crossingsebagai akses sementara sambil menunggu pembangunan JPO pengganti.
Fasilitas penyeberangan sebidang tersebut mulai digunakan sejak Selasa (28/7). Pekerjaan meliputi pembuatan marka penyeberangan serta penataan area median jalan menggunakan paving agar jalur di kedua sisi dapat terhubung.
"Pelican crossing sudah bisa dipakai," kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan Bernad Octavianus Pasaribu kepada wartawan di Jakarta, Kamis (30/7).
"Median sudah dipasang paving, nanti malam lanjut perapihan kembali," ucapnya
Petugas Disiagakan Bantu Pejalan Kaki
Dishub Jakarta Selatan menempatkan personel di sekitar lokasi untuk membantu pejalan kaki sekaligus menyosialisasikan keberadaan fasilitas baru kepada pengendara.
"Anggota kita juga ditempatkan di lokasi untuk membantu membiasakan kendaraan yang melintas untuk memperhatikan adanya pelican crossing baru," katanya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pengendara telah berhenti ketika melihat pejalan kaki melintas. Namun, sebagian pengguna jalan disebut belum menyadari keberadaan penyeberangan baru tersebut. Beberapa pejalan kaki bahkan masih mengangkat tangan sebagai tanda ketika hendak menyeberang.
Salah seorang warga yang bekerja di sekitar lokasi, Oki, mengaku akses sementara itu membantu mobilitasnya setelah JPO dibongkar.
"Senang adanya pelican crossing. Harapannya setiap pagi atau siangnya ada petugas biar menyeberangnya lancar, sebelum ada jembatan lagi gitu," katanya.
Keberadaan petugas dinilai penting pada masa awal operasional karena pelican crossing dapat memperlambat arus kendaraan ketika lampu penyeberangan diaktifkan. Dishub DKI sebelumnya juga mengingatkan pengendara agar memperhatikan lampu lalu lintas dan memberikan prioritas kepada pejalan kaki.
Layani 874 Pejalan Kaki Setiap Jam
Data Dishub DKI menunjukkan Jalan Kapten Tendean dilintasi sekitar 2.579 kendaraan per jam. Pada saat yang sama, jumlah pejalan kaki yang menyeberang di sekitar lokasi bekas JPO mencapai 874 orang per jam.
Sebelum fasilitas sementara dibangun, masyarakat harus berjalan lebih jauh untuk menemukan titik penyeberangan. Pilihan terdekat meliputi pelican crossing di depan Ayam Goreng Suharti sejauh 383 meter, zebra cross di U-turn Simpang Gotri sekitar 364 meter, serta JPO di depan Gerbang Tol Bina Marga sejauh 718 meter.
Dishub DKI menilai jarak tersebut terlalu jauh karena fasilitas penyeberangan di kawasan dengan aktivitas tinggi idealnya tersedia setiap 100 hingga 200 meter. Kondisi itu menjadi dasar pemasangan pelican crossing tepat di sekitar lokasi JPO lama.
JPO Rusak Berat Setelah Ditabrak Truk
JPO Tendean mengalami kerusakan berat setelah ditabrak truk pengangkut alat berat pada 14 Juli 2026. Benturan menyebabkan bagian tangga terpisah dari badan jembatan dan salah satu penyangganya terangkat, sehingga konstruksi dinilai tidak lagi aman digunakan.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian tersebut. Namun, Dinas Bina Marga memperkirakan kerugian material mencapai miliaran rupiah. JPO kemudian dibongkar pada hari yang sama agar tidak membahayakan masyarakat dan arus lalu lintas dapat kembali dibuka.
Dinas Bina Marga menegaskan pelican crossing hanya berfungsi sebagai akses sementara selama proses perencanaan dan pembangunan JPO baru. Instansi tersebut turut menata jalur pejalan kaki dengan memasang paving pada area median sehingga fasilitas dapat digunakan secara optimal.
"Fasilitas penyeberangan tersebut disediakan sebagai akses sementara bagi masyarakat pascapembongkaran JPO Tendean yang mengalami kerusakan berat akibat insiden beberapa waktu lalu, hingga dibangunnya kembali JPO pengganti," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta Siti Dinarwenny.
Pembangunan JPO Diperkirakan Rp5–6 Miliar
Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo memperkirakan pembangunan kembali JPO Tendean membutuhkan anggaran sekitar Rp5 miliar hingga Rp6 miliar.
Pemprov DKI mempertimbangkan pembiayaan melalui skema Koefisien Lantai Bangunan agar proyek tidak sepenuhnya membebani APBD. Pilihan lain yang pernah dibahas meliputi dana tanggung jawab sosial perusahaan dan hak penamaan fasilitas.
"Pembiayaan dicarikan dari luar. Mungkin dari KLB ya. Anggarannya mau kita hitung dulu. Tapi (perkiraan) mungkin sekitar Rp5 miliar hingga Rp6 miliar," kata Heru.
Pembangunan JPO baru diperkirakan memerlukan waktu karena harus melalui perencanaan teknis dan penentuan sumber pembiayaan. Setelah jembatan selesai, Dishub DKI berencana membongkar pelican crossing agar pejalan kaki kembali menggunakan jalur tidak sebidang dan arus kendaraan dapat bergerak tanpa terhenti.
Sementara proses pembangunan berjalan, keselamatan di lokasi akan bergantung pada kepatuhan pengendara terhadap lampu penyeberangan serta kesiapan petugas membantu masyarakat beradaptasi dengan fasilitas baru.
Tinggalkan Komentar
Komentar