Pendapatan Busway Transjakarta, Blok M-Kota Jadi Rute Paling Cuan
Pendapatan busway Transjakarta per koridor menunjukkan rute Blok M-Kota paling cuan, mencapai Rp67,74 miliar pada 2024.

Periskop.id - Layanan transportasi publik di Jakarta terus menjadi tulang punggung mobilitas warga komuter. Sebagai salah satu armada moda transportasi massal utama, angka pendapatan armada busway Transjakarta mencatatkan capaian finansial yang bervariasi di setiap rute operasionalnya.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Provinsi DKI Jakarta Dalam Angka 2026 yang merujuk pada data Transjakarta tahun 2024, perolehan finansial antar-koridor menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Rute-rute yang membelah pusat bisnis dan kawasan perkantoran mendominasi daftar perolehan tertinggi.
Koridor Utama yang Menjadi Penyumbang Pendapatan Terbesar
Dari belasan jalur aktif, Koridor I (Blok M – Kota) mengukuhkan posisinya sebagai rute paling produktif dengan nilai perolehan mencapai Rp 67,74 miliar. Jalur ini melewati pusat perekonomian utama Jakarta seperti Sudirman dan Thamrin, sehingga tingkat keterisian penumpangnya selalu tinggi sepanjang hari kerja maupun akhir pekan.
Posisi kedua ditempati oleh Koridor IX (Pinang Ranti – Pluit) yang berhasil mengantongi Rp 62,33 miliar. Rute melingkar yang menghubungkan Jakarta Timur menuju Jakarta Barat dan Utara ini menjadi jalur vital bagi pekerja lintas wilayah.
Sementara itu, Koridor XIII (Ciledug – Tendean) menyusul di posisi ketiga dengan perolehan Rp 40,48 miliar, membuktikan tingginya kebutuhan integrasi transportasi dari daerah penyangga seperti Tangerang.
Pendapatan Busway Transjakarta Berdasarkan Koridor
Untuk melihat peta kinerjanya secara menyeluruh, setiap rute memiliki angka kontribusi yang mencerminkan kepadatan penumpang harian.
Berikut adalah rincian pendapatan busway Transjakarta menurut koridor dan rute:
| Koridor | Rute Operasional | Pendapatan (Rp Miliar) |
|---|---|---|
| Koridor I | Blok M – Kota | 67,74 |
| Koridor IX | Pinang Ranti – Pluit | 62,33 |
| Koridor XIII | Ciledug – Tendean | 40,48 |
| Koridor VIII | Lebak Bulus – Harmoni | 39,69 |
| Koridor VI | Ragunan – Dukuh Atas 2 | 34,65 |
| Koridor II | Pulogadung 1 – Harmoni | 33,62 |
| Koridor III | Kalideres – Pasar Baru | 32,32 |
| Koridor V | Kampung Melayu – Ancol | 31,89 |
| Koridor VII | Kampung Rambutan – Kampung Melayu | 30,17 |
| Koridor X | PGC 2 – Tanjung Priok | 27,11 |
| Koridor IV | Pulogadung 2 – Dukuh Atas | 20,23 |
| Koridor XII | Penjaringan – Tanjung Priok | 11,27 |
| Koridor XI | Kampung Melayu – Pulogebang | 9,62 |
| Koridor XIV | Senen – Jakarta International Stadium | 1,70 |
Faktor Pendorong Mobilitas Penumpang di Rute Populer
Tinggi rendahnya angka penerimaan ini dipengaruhi oleh lokasi integrasi antarmoda. Koridor dengan capaian di atas Rp 30 miliar umumnya terhubung langsung dengan titik transit penting seperti stasiun KRL Commuter Line, MRT Jakarta, maupun LRT. Kehadiran halte transit yang nyaman memudahkan perpindahan rute dan mendorong volume pengguna secara konsisten.
Sebaliknya, rute penunjang seperti Koridor XIV (Senen – Jakarta International Stadium) masih mencatatkan nilai terendah sebesar Rp 1,70 miliar. Angka pada rute-rute perintis ini berpotensi terus bertambah seiring dengan meningkatnya frekuensi acara di kawasan stadium dan optimalisasi penambahan armada busway di masa depan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), dan jakarta dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.