periskop.id -Pada perdagangan Jumat (19/12), rupiah sempat menguat 5 poin ke level Rp16.750, tetapi akhirnya ditutup melemah 27 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.723. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin mendatang masih fluktuatif.

“Untuk perdagangan Senin pekan depan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun diperkirakan akan ditutup melemah di rentang Rp16.750 hingga Rp16.780," ujar Ibrahim, Jumat (19/12).

Pergerakan rupiah tertekan oleh penguatan indeks dolar AS. Indeks tersebut tercatat menguat pada perdagangan Jumat, seiring data inflasi AS yang mulai menunjukkan perlambatan. Indeks Harga Konsumen (CPI) inti AS pada November turun ke level terendah sejak awal 2021, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS).

"Baik CPI utama maupun inti mengalami penurunan, tetapi para ekonom memperingatkan bahwa penutupan pemerintah selama 43 hari dapat mendistorsi beberapa data yang dikumpulkan untuk rilis tersebut," jelas Ibrahim.

Meski inflasi melandai, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed masih direspons skeptis oleh pasar karena data pekerjaan tetap solid, tercermin dari laporan Klaim Pengangguran Awal terbaru. Fokus pasar kini bergeser pada rilis indikator inflasi favorit The Fed, Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), serta Indeks Sentimen Konsumen Universitas Michigan untuk rilis terakhirnya.

Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina yang hampir mencapai titik terang, turut mempengaruhi sentimen pasar. Namun, langkah-langkah tambahan yang menargetkan minyak Rusia dan blokade kapal tanker Venezuela berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar. 

"Belum jelas bagaimana AS akan menegakkan pengumuman Trump untuk memblokade kapal tanker yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela, yang menyumbang sekitar 1% dari pasokan global," tambah Ibrahim.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari risiko fiskal. Bank Dunia memperingatkan defisit APBN Indonesia berpotensi melebar hingga mendekati batas psikologis 3% terhadap PDB pada 2027, akibat menurunnya rasio pendapatan negara dan meningkatnya beban utang. 

"Defisit keseimbangan fiskal diproyeksikan berada di level 2,8% terhadap PDB pada 2025 dan bertahan pada 2026, kemudian meningkat menjadi 2,9% pada 2027, nyaris menyentuh ambang batas defisit fiskal sebesar 3%," kata Ibrahim.

Peningkatan rasio utang dan biaya bunga yang tinggi semakin membatasi ruang belanja pemerintah. Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan tercatat mencapai 20,5% hingga Oktober 2025.

“Artinya, seperlima pendapatan negara digunakan hanya untuk membayar kewajiban bunga utang pemerintah. Kondisi ini dapat membatasi belanja negara untuk sektor produktif dan meningkatkan risiko fiskal domestik,” tukas Ibrahim.