periskop.id - Mata uang rupiah pada Senin (22/12) ditutup melemah, mengikuti tren penguatan indeks dolar AS. Menurut data pasar, rupiah sore ini berada di level Rp16.777 per dolar AS, melemah 27 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.750, setelah sebelumnya sempat melemah 40 poin. Untuk perdagangan besok, rupiah diprediksi akan tetap fluktuatif.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.770-Rp16.810,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin (22/12).
Penguatan dolar AS didorong oleh faktor eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak. Laporan akhir pekan menyebutkan bahwa Israel berencana memberi pengarahan kepada AS mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Trump pada akhir Desember, yang diperkirakan akan mendorong tindakan lebih lanjut terkait rudal balistik dan program nuklir Teheran.
Ketegangan ini turut diperkuat dengan situasi di Venezuela, di mana Amerika Serikat meningkatkan pengawasan terhadap kapal tanker minyak negara tersebut, menuduh Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai pengiriman narkoba dan imigrasi ilegal ke AS.
Dari sisi domestik, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai bahwa perekonomian Indonesia tetap menghadapi tantangan signifikan. Ekonom menilai perekonomian Indonesia ke depan masih akan menghadapi tantangan besar, baik dari sisi global maupun domestik.
Namun, harapan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap ada meskipun dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, baik dari ekternal maupun internal Indonesia. Ia menambahkan bahwa lembaga internasional, termasuk IMF, memproyeksikan kondisi ekonomi global 2026 tidak lebih baik dibandingkan 2025.
“Perlambatan ekonomi mitra dagang utama Indonesia, meningkatnya ketidakpastian perdagangan internasional, serta dinamika geopolitik global perlu diantisipasi secara serius,” ujar Ibrahim.
Selain itu, melemahnya daya beli kelas menengah, risiko inflasi pangan, serta penurunan investasi asing di luar sektor hilirisasi. Ia juga mengingatkan dampak signifikan bencana di Sumatera terhadap perekonomian nasional.
Missal faktor bencana di Sumatera cukup signifikan mempengaruhi capaian pertumbuhan ekonomi. Kalau kita lihat pengalaman tsunami Aceh 2004 itu kontraksi ekonominya sampai 2009, apalagi kalau bencananya di tiga provinsi, perlu lebih serius diatasi.
Dengan kondisi tersebut diatas diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9-5,1%. Untuk mencapai pertumbuhan di atas 5%, perlu adanya penguatan sektor manufaktur dan jasa, peningkatan efektivitas stimulus, serta perbaikan tata kelola fiskal.
Tinggalkan Komentar
Komentar