periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (24/12), seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat dan kondisi pasar global yang relatif sepi menjelang libur Natal. Pada perdagangan sore, rupiah sempat menguat 35 poin ke level Rp16.765 dari penutupan sebelumnya di Rp16.787, dan akhirnya menutup sesi dengan penguatan 22 poin.

“Untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp16.760-Rp16.790,” ujar Ibrahim, Rabu (24/12).

Meningkatnya gesekan geopolitik, termasuk ketegangan yang kembali muncul antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang telah mengganggu pasar keuangan yang lebih luas. Tindakan Washington yang semakin keras terhadap pengiriman minyak Venezuela dan respons Caracas telah menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas regional dan risiko pasokan global.

“Ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar juga menjadi pendorong utama. Pasar terus memperhitungkan pemotongan suku bunga Federal Reserve pada tahun 2026, bahkan setelah data ekonomi AS baru-baru ini menunjukkan kekuatan yang mengejutkan,” imbuh Ibrahim.

Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan bahwa ekonomi tumbuh dengan laju tahunan yang kuat sebesar 4,3% pada kuartal ketiga, di atas ekspektasi pasar 3,3% dan perkiraan sebelumnya 3,8%. Pesanan Barang Tahan Lama turun 2,2% pada bulan Oktober, membalikkan kenaikan sebelumnya sebesar 0,7%. Pesanan tidak termasuk pertahanan turun 1,5%, sementara Pesanan Barang Tahan Lama tidak termasuk transportasi naik 0,2%.

Kondisi perdagangan tetap lesu di seluruh wilayah utama saat pasar memasuki liburan Natal. Pasar AS akan tutup lebih awal pada hari Rabu untuk Malam Natal dan akan tutup pada hari Kamis untuk Hari Natal, sementara partisipasi juga menipis di Eropa dan sebagian Asia.

Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia diproyeksikan tetap menjaga ketahanan pertumbuhan pada 2026. Hal itu ditopang segmen konsumsi rumah tangga hingga investasi.

“Pergeseran ini menandai transisi ekonomi Indonesia dari sekadar menjaga momentum pertumbuhan menuju penguatan kualitas dan keberlanjutan pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang,” kata Ibrahim.

Sedangkan, dua mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Konsumsi rumah tangga tetap berperan sebagai penopang jangka pendek, seiring membaiknya daya beli dan stabilitas harga. Sementara itu, investasi yang lebih terfokus menjadi pendorong utama peningkatan produktivitas dan kapasitas ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, seiring dengan masuknya bank sentral global dan domestik ke fase pelonggaran, kondisi pasar keuangan Indonesia diperkirakan menjadi lebih kondusif. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak dalam kisaran 5,6%-6,1%, mencerminkan stabilitas yang mendukung pembiayaan pemerintah maupun dunia usaha.

Meski risiko global masih membayangi, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin solid dinilai memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

“Dengan pondasi makroekonomi yang lebih seimbang, Indonesia memasuki 2026 dengan ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Ibrahim.