periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin (5/1/2026) seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian global. Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah sempat melemah 35 poin di level Rp16.740 dan akhirnya ditutup melemah 15 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp16.725.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.740–Rp16.770,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin (5/1).

Dari eksternal, pejabat AS mengkonfirmasi bahwa Maduro telah ditahan selama penggerebekan akhir pekan di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada. Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade dan memicu kecaman dari beberapa negara, sementara investor menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional.

Presiden Donald Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penangkapan Maduro adalah "langkah menentukan" terhadap apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, menambahkan bahwa AS akan memastikan "transisi yang aman dan tertib" di Venezuela.

Kemudian, Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara lain yang bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran. Ia juga mengulangi seruannya untuk pengambilalihan Greenland oleh AS.

“Aksi militer, ditambah dengan komentar Trump, meningkatkan ketidakpastian atas geopolitik global. Para analis juga memperingatkan bahwa tindakan Washington dapat menjadi preseden bagi negara-negara adidaya global lainnya, khususnya Tiongkok dan Rusia,” jelas Ibrahim.

Selain itu, rencana Beijing untuk langkah-langkah stimulus tambahan yang bertujuan untuk meningkatkan pengeluaran konsumen. Pemerintah mengumumkan program senilai 62,5 miliar yuan ($8,94 miliar) untuk memperpanjang subsidi barang elektronik konsumen dan barang lainnya pada akhir Desember.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$2,66 miliar per November 2025. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dari realisasi neraca dagang bulan sebelumnya atau Oktober 2025 senilai US$2,39 miliar.

Indonesia mencatatkan ekspor November 2025 mencapai US$22,52 miliar atau turun 6,6% dibandingkan November 2024 (year on year/YoY). Penurunan ekspor disebabkan oleh penurunan ekspor nonmigas yaitu pada bahan bakar mineral, lemak nabati, hingga besi/baja.

Adapun, nilai impor November 2025 mencapai US$19,86 miliar atau turun 0,46% dibandingkan November 2024 (year on year/yoy). Neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar US$2,66 miliar. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 67 bulan berturut turut sejak Mei 2020.

Surplus Dagang RI 2026 Terancam Menyempit Surplus pada November 2025 lebih ditopang pada surplus komoditas nonmigas yaitu sebesar US$4,64 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sebelumnya, konsensus ekonom memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan berlanjut pada November 2025 atau 67 bulan secara beruntun. Surplus diproyeksikan akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.