periskop.id - Di era modern saat ini, perempuan sering dituntut harus bisa menjalani berbagai peran secara profesional, seperti berkarier di dunia kerja, mengurus rumah tangga, hingga aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini sering disebut sebagai superwoman syndrome.
Fenomena tersebut sering membuat perempuan mengabaikan kondisi diri sendiri karena berusaha memenuhi setiap peran secara sempurna, bahkan hingga melampaui batas kemampuannya. Alih-alih memberikan kebahagiaan, tuntutan perfeksionisme justru memicu stres, kecemasan, dan kelelahan berkepanjangan.
Melansir situs Scripps, Jennifer Duong, MD, dokter spesialis keluarga di Scripps Coastal Medical Center Encinitas, mengatakan bahwa anggapan menjalani seluruh peran dan tanggung jawab secara sempurna bisa menghadirkan kebahagiaan dan keseimbangan seumur hidup merupakan hal yang tidak realistis. Menurutnya, kondisi tersebut justru berpotensi menimbulkan stres, rasa cemas, dan kelelahan kronis.
Definisi Superwoman Syndrome
Superwoman syndrome adalah fenomena ketika perempuan berusaha menjalani dan menyelesaikan berbagai peran secara sempurna, mulai dari urusan karier, kehidupan sosial, hingga tanggung jawab rumah tangga. Fenomena ini sering membuat perempuan mengesampingkan kebutuhan pribadinya. Pada akhirnya, kondisi ini bisa memicu stres, kecemasan, hingga depresi.
Istilah superwoman syndrome pertama kali diperkenalkan pada 1984 oleh Marjorie Hansen Shevitz melalui bukunya The Superwoman Syndrome. Konsep ini menggambarkan tekanan yang dialami perempuan ketika harus menghadapi dan memenuhi berbagai tuntutan secara bersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Gejala yang Timbul dari Superwoman Syndrome
Berbicara mengenai gejala, seorang perempuan yang mengalami superwoman syndrome memperlihatkan perasaan stres yang tinggi. Berikut beberapa gejala yang muncul dikutip dari Scripps.
- Mudah tersinggung.
- Kesulitan tidur atau tidur yang berlebihan.
- Mengalami gangguan memori.
- Otot merasa tegang.
- Muncul perasaan cemas.
- Keluar keringat meskipun tidak dalam keadaan beraktivitas.
- Kesulitan dalam berkonsentrasi.
- Badan terasa nyeri dan pegal-pegal.
Dr. Duong mengatakan, menggapai standar perfeksionisme yang tidak mungkin untuk dicapai dan selalu mengesampingkan kesejahteraan diri justru akan meningkatkan stres dan ketidakbahagiaan. Tingkat stres yang tinggi justru berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, seperti penyakit jantung, penuaan diri, diabetes, obesitas, dan gangguan kecemasan.
Solusi Mengatasi Superwoman Syndrome
Masih dari sumber yang sama, terdapat sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi superwoman syndrome.
1. Meminta Bantuan
Cobalah untuk tidak menanggung semuanya sendiri. Mintalah bantuan kepada orang-orang terdekat, seperti keluarga atau teman. Sampaikan kebutuhanmu secara terbuka dan diskusikan bersama cara terbaik untuk meringankan beban yang kamu hadapi.
2. Meluangkan Waktu untuk Diri Sendiri
Sisihkan waktu untuk beristirahat sejenak dari rutinitas harian. Kamu bisa melakukan meditasi, latihan mindfulness, atau yoga untuk membantu meredakan stres dan memperlambat ritme hidup. Waktu luang juga bisa dimanfaatkan dengan membaca buku, berjalan santai sambil menikmati udara segar, atau melakukan refleksi diri.
3. Mulai Belajar Berkata “Tidak”
Mulailah berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang tidak mampu atau tidak ingin kamu lakukan. Menentukan prioritas diri sendiri merupakan langkah penting agar tidak terus terbebani oleh tuntutan orang lain.
4. Menentukan Tujuan yang Realistis
Buatlah tujuan hidup yang sesuai dengan kapasitas dan nilai yang kamu pegang. Kamu bisa memulainya dengan menyusun daftar hal-hal penting dalam hidup. Cobalah menggambar sebuah lingkaran seperti diagram untuk memetakan pembagian waktu dan energi yang kamu alokasikan pada masing-masing aspek kehidupan.
5. Melepaskan Perfeksionisme
Tidak semua hal harus berjalan sempurna. Rumah tidak harus selalu rapi, makan malam tidak selalu harus tersaji tepat waktu, dan kamu tidak perlu menjadi karyawan yang sempurna setiap saat. Hanya karena kamu mampu melakukan banyak hal, bukan berarti semuanya harus kamu kerjakan. Penting untuk memahami apa yang benar-benar kamu butuhkan dan apa yang bermakna bagi dirimu sendiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar