periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu (7/1/2026) seiring penguatan indeks dolar AS dan sentimen global yang masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat serta tensi geopolitik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup melemah 22 poin ke level Rp16.780 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp16.758. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan lebih dalam hingga melemah 30 poin
“Penguatan indeks dolar AS hari ini masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah,” ujar Ibrahim, Rabu (7/1).
Untuk perdagangan Kamis (8/1/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih cenderung fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah. Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, pelaku pasar mencermati perbedaan pandangan di internal Federal Reserve. Gubernur The Fed Stephen Miran menilai aktivitas bisnis AS tetap solid, namun kondisi tersebut justru membuka ruang bagi suku bunga yang lebih rendah. Sementara itu, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin berpandangan suku bunga dana Fed saat ini sudah berada di level netral, tidak mendorong maupun menahan aktivitas ekonomi.
Kontrak berjangka dana Fed masih menunjukkan peluang sekitar 82% suku bunga acuan akan ditahan pada pertemuan 27–28 Januari 2026, berdasarkan alat CME FedWatch. Meski demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed sebanyak dua kali tahun ini, ditambah ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, turut menopang harga emas yang bertahan di sekitar level tertinggi.
Investor juga menunggu rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) AS bulan Desember yang akan diumumkan Jumat.
“Data tenaga kerja masih menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah suku bunga ke depan,” kata Ibrahim.
Selain itu, pasar global turut mencermati perkembangan geopolitik, termasuk langkah AS terhadap Venezuela. Presiden Donald Trump menyatakan Caracas telah sepakat memasok sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS, menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS akhir pekan lalu. Di Asia, ketegangan diplomatik Jepang–Tiongkok juga meningkat setelah Beijing membatasi ekspor barang yang berpotensi memiliki aplikasi militer ke Jepang.
Dari dalam negeri, sentimen relatif lebih konstruktif. Lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, serta Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5%. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi nasional dapat mencapai 6%.
Menurut Ibrahim, optimisme tersebut didukung sejumlah strategi pemerintah, termasuk percepatan realisasi anggaran agar belanja fiskal dapat digelontorkan sejak awal tahun dan diselaraskan dengan kebijakan moneter Bank Indonesia.
“Akselerasi anggaran dan sinkronisasi kebijakan dinilai bisa memberikan dorongan tambahan bagi pertumbuhan,” ujarnya.
Perbaikan iklim usaha dan upaya penyelesaian hambatan investasi juga dinilai berpotensi mengembalikan kepercayaan investor, termasuk investor asing. Pemerintah disebut berkomitmen mengevaluasi regulasi yang dinilai mengganggu iklim investasi, sehingga aliran investasi ke Indonesia diharapkan semakin membaik ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar