periskop.id - Di tengah dunia digital yang semakin personal, batas antara manusia dan mesin kian kabur. Riset Kaspersky bertajuk My AI Friend mengungkap fakta mengejutkan, lebih dari 30% responden mengaku berbicara dengan Artificial Intelligence (AI) ketika merasa sedih atau kesepian. Temuan ini membuka diskusi besar tentang mengapa teknologi kini dipandang sebagai ruang aman emosional, siapa yang paling banyak menggunakannya, serta risiko tersembunyi di balik kenyamanan tersebut.

Mengapa Curhat ke AI Terasa Lebih Nyaman?

Mengapa lebih dari 30% responden justru memilih berbicara dengan mesin daripada manusia? Kuncinya terletak pada rasa aman secara psikologis. Berbagi cerita dengan orang lain, bahkan yang paling dekat sekali pun, sering kali dibayangi kecemasan, mulai dari takut dicap lemah, khawatir rahasia bocor, atau cemas mendapat respons yang menghakimi.

Dalam survei tersebut, AI dipersepsikan sebagai ruang netral tanpa penilaian. Anonim, selalu tersedia, dan tidak menuntut balasan emosional. Bagi sekitar 31% responden, AI adalah pendengar yang siap 24 jam sehari, tanpa lelah dan tanpa prasangka. Kehadiran instan inilah yang membuatnya terasa menenangkan, terutama bagi mereka yang dilanda kesepian di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Namun, di balik kenyamanan itu tersimpan paradoks. Ketika validasi instan dari AI terasa terlalu mudah, ada risiko kita perlahan menjauh dari relasi manusia yang sesungguhnya, hubungan yang memang menuntut waktu, empati, dan usaha. 

Gen Z Nyaman Curhat ke AI, Generasi Tua Masih Ragu

Jika kita membedah statistik ini lebih dalam, terlihat jelas bahwa tren curhat ke robot ini tidak merata di semua usia. Ada jurang pemisah yang cukup lebar antara generasi muda dan generasi tua dalam memandang fungsi AI sebagai teman.

Data Kaspersky menunjukkan bahwa 35% dari responden Gen Z dan Milenial merasa nyaman menggunakan AI sebagai teman bicara untuk masalah personal. Bagi generasi yang tumbuh besar sebagai digital natives ini, batas antara interaksi manusia dan mesin sangat tipis. Mereka melihat AI sebagai entitas sosial yang bisa diajak berdiskusi tentang kehidupan, bukan sekadar mesin pencari.

Sebaliknya, angka ini turun drastis pada kelompok usia yang lebih tua. Hanya sekitar 19% dari responden berusia 55 tahun ke atas yang tertarik menggunakan AI untuk kebutuhan emosional. Mayoritas generasi ini tetap memegang prinsip konvensional bahwa curhat adalah aktivitas antarmanusia, sementara AI hanyalah alat bantu teknis. Perbedaan 16 poin persentase ini menegaskan bahwa penerimaan AI sebagai sahabat sangat dipengaruhi oleh seberapa terintegrasinya teknologi dalam masa pertumbuhan seseorang.

AI Selalu Mengerti, tapi Tak Pernah Merasa

Setelah mengetahui siapa yang menggunakannya, mari kita bicara soal rasa. Ketika AI merespons curhatan dengan kalimat, "Saya mengerti perasaan Anda, itu pasti berat," rasanya memang menenangkan. Namun, kita perlu berhenti sejenak dan menyadari realitasnya, bahwa AI tidak memiliki perasaan.

Apa yang tampak sebagai empati sejatinya hanyalah hasil perhitungan. AI bekerja dengan mempelajari miliaran teks dari internet dan menebak rangkaian kata yang paling tepat setelah seseorang mengatakan, “Saya sedih.” Kalimatnya bisa terasa manusiawi, tetapi di baliknya tidak ada emosi, pengalaman, atau kepedulian, hanya pola dan statistik.

Masalah muncul ketika hubungan satu arah ini mulai dianggap wajar. Jika kita terus mencari penguatan dari mesin yang hampir selalu setuju dan jarang membantah, perlahan kita bisa kehilangan ketahanan emosional untuk menghadapi dunia nyata.

Curhat ke AI, Data Jadi Taruhannya

Poin terakhir ini adalah yang paling krusial dan menjadi perhatian utama dari Kaspersky sebagai ahli keamanan siber. Saat Anda curhat ke AI, Anda mungkin merasa sedang berada di ruang privat. Faktanya, Anda sedang mengirimkan data ke server milik perusahaan teknologi raksasa.

Apa yang terjadi pada data tersebut? Isi percakapan Anda, yang mungkin berisi masalah rumah tangga, kondisi mental, nama orang lain, atau lokasi, bisa disimpan dan digunakan untuk melatih model AI agar lebih pintar di masa depan. Dalam skenario terburuk, jika akun Anda diretas, riwayat percakapan yang sangat pribadi itu bisa bocor ke tangan yang salah.

Kaspersky memperingatkan risiko oversharing atau berbagi berlebihan. Penjahat siber juga bisa memanfaatkan tren ini dengan membuat chatbot palsu untuk memancing korban memberikan informasi sensitif (teknik phishing). Silakan gunakan AI untuk hiburan atau saran umum, tetapi jangan pernah memasukkan data pribadi, identitas lengkap, atau rahasia sensitif ke dalam kolom obrolan. Jadikan keamanan data sebagai prioritas di atas kenyamanan emosional.