periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (08/01/2026), seiring dengan penguatan indeks dolar AS dan dinamika eksternal maupun internal yang memengaruhi pasar.

Pada penutupan sore ini, rupiah melemah 18 poin ke level Rp16.798 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 25 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.780.

“Untuk perdagangan besok (9/1), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap berada dalam tren pelemahan di kisaran Rp16.780-Rp16.810,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Kamis (8/1).

Dari eksternal, data ekonomi AS menunjukkan bahwa aktivitas bisnis membaik, sementara pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda yang lebih baik dari yang diperkirakan. PMI Jasa ISM melonjak dari 52,6 menjadi 54,4, jauh melampaui ekspektasi 52,3.

Sementara Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan JOLTS November, yang menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan menurun menjadi 7,146 juta, turun dari 7,449 juta pada bulan Oktober. Hal ini menunjukkan pendinginan bertahap dalam permintaan tenaga kerja.

Perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa penggajian swasta meningkat sebesar 41.000 pada bulan Desember, kurang dari perkiraan sebesar 47.000, tetapi menandai peningkatan yang jelas dari kehilangan pekerjaan sebesar 29.000 pada bulan November, menunjukkan stabilisasi sementara dalam perekrutan menjelang akhir tahun.

“Fokus pasar selanjutnya adalah Klaim Pengangguran Awal mingguan yang akan dirilis malam ini dan laporan Nonfarm Payrolls Desember, yang akan dirilis hari Jumat. Laporan dari sektor tenaga kerja AS ini diperkirakan dapat mendorong kembali harga emas jika pasar tenaga kerja terus memburuk,” kata Ibrahim.

Selain itu, Trump berencana mengendalikan industri minyak Venezuela selama bertahun-tahun, menargetkan harga minyak $50 per barel. Trump berencana untuk mengendalikan industri minyak Venezuela selama beberapa tahun ke depan, menurut laporan WSJ, dalam upaya mencapai target harga minyak $50 per barel yang ditetapkan presiden.

Pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan untuk mengendalikan perusahaan minyak milik negara Venezuela, Petróleos de Venezuela SA, atau PdVSA, menurut laporan tersebut.Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta dan 50 juta barel minyak ke Washington, senilai hingga $3 miliar, hanya beberapa hari setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 sebesar USD156,5 miliar, meningkat dibandingkan posisi pada akhir November 2025 yang sebesar USD150,1 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut terutama bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global pemerintah, serta penarikan pinjaman pemerintah.

Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing yang diprakirakan terus berlanjut sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik. BI terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.