periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (20/1) sore, seiring penguatan indeks dolar AS. Rupiah ditutup di level Rp16.956 per dolar AS, melemah 1 poin dari penutupan sebelumnya Rp16.955, setelah sempat tertekan hingga 30 poin. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal yang menambah ketidakpastian pasar.

“Indeks dolar AS menguat pada Selasa, sementara rupiah sempat melemah cukup dalam sebelum akhirnya ditutup tipis. Perdagangan besok masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah,” ujarnya.

Untuk perdagangan Rabu (21/1) besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950-Rp16.980.

Dari luar negeri, ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah Presiden AS Donald Trump mempertahankan tuntutannya atas Greenland. Dalam wawancara dengan NBC News, Trump tidak menutup kemungkinan pengerahan militer, menambah kekhawatiran pasar setelah serangan Washington ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro awal Januari. Ibrahim menilai isu ini menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang. 

“Kekhawatiran pasar meningkat karena Trump tidak menutup opsi militer untuk Greenland, sementara perang dagang dengan Eropa juga kembali di permukaan,” kata dia.

Selain itu, ancaman perang dagang kembali meningkat. Trump menyatakan akan mengenakan bea tambahan 10% mulai 1 Februari terhadap barang impor dari delapan negara Eropa, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada Juni bila tidak ada kesepakatan terkait Greenland. Uni Eropa dan Inggris disebut siap membalas dengan tarif balasan hingga €93 miliar serta membatasi akses perusahaan AS ke pasar Eropa.

Di sisi kebijakan moneter, pasar menilai peluang penurunan suku bunga Federal Reserve pada Januari hanya 5%, menurut CME FedWatch. Sebagian besar analis memperkirakan Fed akan menahan pelonggaran karena kondisi pasar tenaga kerja yang stabil.

Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% pada 2026 dan 2027, lebih tinggi dari estimasi 2025 sebesar 5%. Ibrahim menilai revisi ini memberi harapan bagi stabilitas jangka menengah.

“Proyeksi IMF yang lebih tinggi menunjukkan optimisme terhadap ekonomi Indonesia, meski tekanan eksternal tetap besar,” jelasnya.

Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan Indonesia stabil di 5,1% pada 2026, lalu meningkat ke 5,2% pada 2027. Proyeksi ini didorong oleh stimulus ekonomi pemerintah sejak 2025 serta investasi yang terus digerakkan oleh kebijakan fiskal. Menurut Ibrahim, kombinasi faktor eksternal dan internal akan terus memengaruhi pergerakan rupiah.

“Ketidakpastian global, terutama dari kebijakan perdagangan AS dan prospek suku bunga Fed, masih menjadi tekanan utama. Namun revisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia memberi sentimen positif jangka menengah,” pungkasnya.