periskop.id - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Selasa (27/1/2026), ditutup di level Rp16.768 atau naik 14 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.782. Meski sempat melemah 20 poin di sesi sebelumnya, rupiah berhasil menahan tekanan dari penguatan indeks dolar AS.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.760–Rp16.790,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, Selasa (27/1).
Ibrahim menilai penguatan rupiah hari ini dipengaruhi fokus pasar terhadap pertemuan kebijakan dua hari Federal Reserve yang berakhir Rabu. Pasar secara luas memperkirakan suku bunga akan tetap stabil setelah tiga kali pemotongan berturut-turut.
Faktor eksternal lain turut membayangi pergerakan rupiah. Ketegangan geopolitik meningkat di Timur Tengah seiring kedatangan kapal-kapal AS ke wilayah tersebut. Selain itu, potensi kenaikan tarif perdagangan terhadap Korea Selatan hingga 25% oleh AS juga membuat investor tetap waspada.
Pasar pun menyoroti kemungkinan penutupan pemerintahan AS. Prediksi Polymarket menunjukkan peluang shutdown melonjak dari 8% pada Jumat lalu menjadi hampir 78% pada Senin, menjelang tenggat 30 Januari bagi anggota parlemen untuk menyetujui RUU pendanaan.
Dari sisi domestik, tantangan pembiayaan utang 2026 menjadi sorotan. Ibrahim menerangkan, target pembiayaan utang netto tercatat Rp832,21 triliun, namun kebutuhan bruto mencapai Rp1.650 triliun, termasuk untuk menutup defisit anggaran dan melunasi pokok utang jatuh tempo.
Risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) juga meningkat, seiring tren rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity/ATM) yang diperkirakan turun dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi 7,7 tahun pada 2026. Selain itu, risiko kekurangan (shortage risk) muncul akibat ketidakpastian kondisi makro dan pasar global, sehingga investor asing tetap bersikap hati-hati.
Selain itu, pemerintah masih sangat bergantung pada penjualan Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen utama pembiayaan. Investor asing dilaporkan masih dalam posisi ‘wait and see’, memperhatikan kebijakan fiskal Indonesia dan kondisi pasar global sebelum mengambil keputusan, menambah faktor ketidakpastian bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Tinggalkan Komentar
Komentar