periskop.id - Mata uang rupiah menutup perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, menguat 46 poin ke level Rp16.722 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.758. Untuk perdagangan Rabu 28 Januari 2026, rupiah diperkirakan fluktuatif.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp.16.670- Rp.16.730," ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, Rabu (28/1).
Dari eksternal, Ibrahim mengatakan pelemahan dolar AS disebabkan oleh ketegangan perdagangan AS-Korea Selatan dan kekhawatiran penutupan pemerintahan AS. Ketegangan perdagangan tetap menjadi perhatian utama, dengan agenda tarif Presiden AS Donald Trump sekali lagi mengganggu pasar.
Ancaman pemberlakuan tarif 25% pada barang-barang dari Korea Selatan oleh Presiden AS turut memengaruhi pasar. Eskalasi perang dagang, yang sekarang terjadi antara AS dan Korea Selatan, meluas ke pasar keuangan. Investor juga mencermati kebijakan The Fed terkait suku bunga.
"Fokus pasar hari ini adalah keputusan suku bunga Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan pada Kamis dini hari pukul 02.00 WIB. Pasar sepenuhnya telah memperkirakan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50%-3,75%," ujar Assuaibi.
Di sisi internal, kebijakan pemerintah Indonesia memberikan sentimen positif terhadap rupiah. Pasar merespon positif terhadap kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan, empat program stimulus tahun 2025 akan dilanjutkan pada tahun 2026.
Program-program tersebut meliputi PPh Final 0,5% bagi UMKM hingga tahun 2029, PPh 21 DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk pekerja sektor pariwisata, PPh 21 DTP untuk pekerja industri padat karya dan Diskon iuran JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU).
Perbaikan kinerja pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga mencatatkan perbaikan kinerja dengan penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41%
Tinggalkan Komentar
Komentar