periskop.id - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menegaskan Indonesia menghadapi risiko diturunkan peringkat pasar modalnya oleh MSCI. Jika kebutuhan transparansi data free float tidak terpenuhi hingga Mei 2026, Indonesia bisa bergeser dari kategori emerging market ke frontier market, sejajar dengan Vietnam dan Filipina.
“Kalau data yang diminta tidak lengkap sampai Mei, MSCI berpotensi menurunkan peringkat kita. Saat ini, Indonesia masih berada di kelompok emerging market bersama Malaysia,” kata Iman di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (28/1).
Iman menambahkan, MSCI telah memulai konsultasi sejak akhir 2025 terkait perubahan metodologi perhitungan free float. Termasuk pengenalan kategori corporate dan others dalam struktur kepemilikan saham.
Langkah ini dinilai krusial, karena penurunan status ke Frontier Market dapat memengaruhi aliran investasi asing dan persepsi global terhadap pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi frontier market, seiring meningkatnya kekhawatiran investor global soal transparansi kepemilikan saham dan akurasi data free float di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam pengumuman resmi Selasa 27 Januari 2026 waktu setempat, MSCI menegaskan pihaknya menahan indeks saham Indonesia. Keputusan ini muncul setelah MSCI menampung masukan dari investor internasional yang menilai struktur kepemilikan saham di Indonesia masih kurang jelas, sehingga berisiko memengaruhi keputusan investasi yang konsisten.
MSCI mengakui ada peningkatan terbatas pada data free float BEI, namun perubahan itu dianggap belum menyelesaikan masalah utama. Kekhawatiran utama tetap pada kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi perdagangan terkoordinasi yang bisa mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.
Tinggalkan Komentar
Komentar