periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Kamis 19 Februari 2026 ditutup melemah tipis. Volatilitas yang terjadi sepanjang hari menunjukkan investor tetap berhati-hati terhadap data ekonomi global dan perkembangan geopolitik
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup melemah tipis 10 poin ke level Rp16.894, setelah sempat anjlok 50 poin di tengah perdagangan. Tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal, termasuk risiko geopolitik Timur Tengah. Investor menyoroti pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance bahwa Iran belum memenuhi tuntutan utama AS.
“Investor tetap waspada terhadap risiko geopolitik di Teluk Persia dan stagnasi upaya perdamaian di Eropa Timur, yang mendorong ketidakpastian pasar,” kata Ibrahim, Kamis (19/2).
Presiden AS Donald Trump juga menegaskan haknya menggunakan kekuatan jika diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran. Aktivitas militer di Teluk memperkuat persepsi pasar tentang kerentanan pasokan energi.
Risiko dari konflik Rusia-Ukraina menambah tekanan terhadap aset berisiko. Peluang pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia dianggap semakin tipis, yang memengaruhi sentimen pasar global.
Pergerakan dolar AS yang menguat juga memengaruhi rupiah. Risalah pertemuan Federal Reserve menunjukkan perbedaan pandangan pejabat mengenai perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Di sisi domestik, pemerintah menjaga kebijakan fiskal tetap stabil. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperluas basis pajak dan menutup kebocoran penerimaan, bukan menaikkan tarif.
Dalam kajian fiskal jangka panjang, IMF menyarankan Indonesia mempertimbangkan peningkatan bertahap pajak karyawan sebagai salah satu sumber pendanaan untuk memperkuat investasi publik dan mendukung target pembangunan jangka panjang menuju Visi Emas 2045.
Dalam laporan tersebut, IMF menilai peningkatan investasi publik berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, namun membutuhkan sumber pembiayaan yang berkelanjutan. Salah satu opsi yang disimulasikan adalah kenaikan pajak penghasilan tenaga kerja secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pada pembiayaan melalui defisit anggaran.
IMF juga mencatat defisit anggaran Indonesia pada 2025 berada di kisaran 2,92 persen terhadap PDB, mendekati batas maksimal 3% yang ditetapkan pemerintah.
Tinggalkan Komentar
Komentar