periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat 20 Februari 2026, ditutup menguat tipis. Sepanjang hari, volatilitas menunjukkan investor masih berhati-hati menanggapi data ekonomi global dan risiko geopolitik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup menguat 6 poin ke level Rp16.888, setelah sempat menguat 25 poin di tengah perdagangan.
“Tekanan terhadap rupiah datang dari faktor eksternal, termasuk penguatan dolar AS yang didorong data ekonomi positif dan risiko geopolitik Timur Tengah,” kata Ibrahim, Jumat (20/2).
Data ekonomi AS yang optimis ikut menekan rupiah. Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 206 ribu, jauh di bawah perkiraan 225 ribu, sementara Survei Manufaktur Philadelphia naik menjadi 16,3, melampaui ekspektasi pasar. Risiko geopolitik di Teluk Persia juga menambah ketidakpastian pasar.
“Investor tetap waspada terhadap risiko ketegangan AS-Iran yang tinggi, apalagi Presiden Donald Trump memberi batas waktu 10-15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir,” kata Ibrahim.
Di sisi domestik, Ibrahim menyoroti penandatanganan perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan AS bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US–Indonesia Alliance. Kesepakatan ini mencakup 11 nota kesepahaman, pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, serta komitmen pembelian energi dan pesawat.
“Perjanjian ini diharapkan menjadi tonggak baru hubungan ekonomi kedua negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Ibrahim.
Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan ke kebijakan teknis agar berdampak nyata.
Untuk perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.880-Rp16.910. Mata uang domestik tetap sensitif terhadap pergerakan Dolar AS dan perkembangan berita global yang memengaruhi sentimen investor.
Tinggalkan Komentar
Komentar