periskop.id - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis, 30 April 2026, di tengah kuatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang ditopang ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap hati-hati pasar menjelang keputusan lanjutan kebijakan The Federal Reserve (The Fed).
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan sebelumnya masih berlanjut. Sebelumnya, rupiah mengalami pelemahan 83 poin ke level Rp17.326 per dolar AS pada Rabu (29/4) dari sebelumnya Rp17.243. Sepanjang sesi, rupiah bahkan sempat melemah hingga 95 poin sebelum ditutup sedikit lebih stabil.
“Rupiah Kamis (30/4) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan bias melemah, berada di kisaran Rp17.320 hingga Rp17.380 per dolar AS, seiring dominasi sentimen dolar AS dan masih tingginya risiko geopolitik global,” ulas Ibrahim dalam keterangan resmi, Kamis (30/4).
Dari sentimen eksternal, penguatan dolar AS masih dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di Timur Tengah. Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari kelompok produsen OPEC dinilai memperdalam kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global di tengah konflik yang belum mereda.
Selain itu, rencana Amerika Serikat memperpanjang blokade pelabuhan Iran turut menambah tekanan sentimen global. Situasi ini membuat arus perdagangan energi semakin terhambat, terutama dengan masih terganggunya jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
“Pasar masih berada dalam mode risk-off karena konflik di Timur Tengah belum menemukan titik akhir, sementara tekanan terhadap Iran terus diperluas oleh AS melalui blokade dan pembatasan ekspor minyak,” ujar Ibrahim.
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga menantikan sinyal dari The Fed yang diperkirakan menahan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Fokus utama investor tertuju pada arah kebijakan ke depan, terutama terkait dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kemungkinan perubahan sikap The Fed dalam jangka menengah.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga masih dipengaruhi faktor struktural. Stagnasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% dinilai tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga ketidakpastian hukum yang membuat pengambilan keputusan strategis menjadi lebih konservatif.
Selain itu, sorotan lembaga pemeringkat Fitch Ratings terhadap Danantara masih menjadi perhatian pelaku pasar. Kekhawatiran terkait tata kelola, potensi konsentrasi pelaporan, hingga risiko penggunaan dana untuk menutup kebutuhan fiskal pemerintah menjadi faktor yang turut mempengaruhi persepsi investor terhadap risiko Indonesia.
“Selama faktor ketidakpastian kebijakan dan tata kelola belum membaik, rupiah masih rentan terhadap tekanan eksternal,” kata Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar