periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Kamis (26 Februari 2026), menyesuaikan pelemahan indeks dolar AS di pasar global.
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup di level Rp16.759 per US$, menguat 41 poin dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.800. Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh penguatan 50 poin sebelum kembali menyesuaikan di level akhir perdagangan.
“Hari ini rupiah mampu menahan pelemahan dolar AS dan ditutup menguat di Rp16.759. Sempat menembus Rp16.750, namun tekanan jual ringan membuatnya kembali stabil sebelum penutupan,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, Kamis (26/2).
Sentimen eksternal yang mendorong penguatan rupiah datang dari perkembangan diplomatik AS–Iran. Para pejabat AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, bertemu dengan pejabat Iran di Jenewa untuk membahas program nuklir Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan, jika kedua pihak bersedia berkomitmen pada dialog konstruktif, penyelesaian masih mungkin tercapai. Sementara Presiden Donald Trump memperingatkan, “Tanpa kemajuan berarti, hal-hal buruk bisa terjadi,”.
Pasar juga menilai pengenaan tarif baru AS hingga 15% pasca-putusan Mahkamah Agung AS menambah ketidakpastian perdagangan global. Ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pun berkurang karena tekanan inflasi tetap tinggi.
Di sisi domestik, pemerintah menanggapi positif pembatalan sebagian kebijakan tarif Trump. Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya menelaah potensi risiko pasca-keputusan tersebut, khususnya terkait implementasi perjanjian dagang Indonesia–AS.
Pemerintah menegaskan, mekanisme perjanjian perdagangan bilateral tetap berjalan, dan kebijakan tarif sementara 10 persen selama 150 hari lebih menguntungkan dibanding skenario awal, sambil memastikan stabilitas ekonomi dan daya saing nasional tetap terjaga.
Tinggalkan Komentar
Komentar