Iklan
Makro

Proyeksi Inflasi Indonesia 2026 Terkendali di 3,3%, Bagaimana Posisinya di ASEAN

Asian Development Bank merilis proyeksi inflasi ASEAN tahun 2026. Laju inflasi Indonesia diprediksi aman di angka 3,3% di tengah ketidakpastian global.

Ilustrasi Perdagangan Dunia
Ilustrasi perdagangan dunia. Foto: Pexels/Tom Fisk
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Lembaga keuangan internasional Asian Development Bank merilis gambaran terbaru mengenai dinamika stabilitas harga di kawasan Asia Tenggara. Dalam laporan ekonominya, laju inflasi di sebagian besar negara kawasan diperkirakan akan berada pada tingkat yang cukup bervariasi. Secara keseluruhan, rata-rata tingkat kenaikan harga di wilayah Asia Tenggara berkembang, di luar Singapura, diproyeksikan menyentuh angka 4,0% pada tahun 2026.

Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global dan lonjakan harga komoditas utama, kondisi ekonomi di tanah air menunjukkan daya tahan yang relatif solid. Angka kenaikan harga domestik diprediksi tetap berada dalam kisaran target otoritas moneter, meskipun sejumlah tantangan dari luar negeri masih terus mengintai.

Posisi Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi Kawasan

Berdasarkan data tersebut, angka proyeksi inflasi untuk Indonesia pada 2026 diperkirakan berada pada tingkat 3,3%. Capaian ini menempatkan Indonesia pada posisi yang jauh lebih stabil jika dibandingkan dengan rata-rata kawasan ASEAN. Ketahanan ekonomi nasional ini tercapai meski pemerintah mengambil langkah berani terkait penyesuaian harga energi domestik.

Penyesuaian tarif energi domestik menjadi salah satu saluran utama masuknya tekanan ekonomi luar negeri ke pasar dalam negeri.

"Indonesia telah membiarkan kenaikan harga energi internasional berdampak pada harga bahan bakar domestik non-subsidi," tulis Asian Development Bank dalam laporan resminya.

Langkah meneruskan pergerakan harga energi global ke BBM non-subsidi tersebut dilakukan untuk menjaga kesehatan anggaran negara tanpa mengorbankan daya beli masyarakat secara drastis. Kebijakan ini dinilai berhasil menjaga laju kenaikan harga barang dan jasa umum tetap terukur.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga di Negara Tetangga

Jika dilihat secara regional, tantangan stabilitas harga di kawasan Asia Tenggara dipicu oleh kombinasi konflik geopolitik dan perubahan iklim. Tekanan yang dialami oleh beberapa negara tetangga tercatat jauh lebih berat akibat tingginya ketergantungan pada pasokan energi luar negeri.

"Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Vietnam menghadapi tekanan harga yang lebih kuat seiring naiknya biaya energi global akibat konflik di Timur Tengah serta gangguan terkait iklim yang mendorong kenaikan harga pangan dan transportasi," ungkap Asian Development Bank dalam laporannya.

Kondisi ekstrem masih terlihat di Myanmar dengan perkiraan angka lonjakan harga mencapai 24,0%, disusul oleh Laos sebesar 8,0%. Kedua negara tersebut menghadapi tantangan ekonomi domestik yang cukup kompleks. Sementara itu, negara tetangga lainnya seperti Filipina diproyeksikan mengalami kenaikan harga sebesar 5,9%, Kamboja 4,7%, dan Vietnam 4,3%.

Di sisi lain, beberapa negara berhasil mencatatkan angka yang sangat rendah. Malaysia diprediksi berada di level 2,0%, Brunei Darussalam 1,1%, dan Timor Leste 1,0%. Intervensi kebijakan pemerintah di beberapa negara terbukti efektif menekan angka estimasi jika dibandingkan dengan proyeksi pada bulan-bulan sebelumnya.

"Kendati demikian, laju inflasi diperkirakan relatif terkendali di sebagian besar negara ekonomi besar di subkawasan ini, namun tetap sangat tinggi di Myanmar dan Laos. Dukungan kebijakan telah menurunkan proyeksi inflasi di Laos, Thailand, dan Timor-Leste," tambah laporan lembaga tersebut.

Proyeksi Inflasi Negara ASEAN Tahun 2026

Berikut adalah daftar proyeksi angka inflasi di negara-negara kawasan Asia Tenggara untuk tahun 2026 berdasarkan data terbaru Asian Development Bank:

NegaraProyeksi Inflasi 2026
Myanmar24,0%
Laos8,0%
Filipina5,9%
Kamboja4,7%
Vietnam4,3%
Indonesia3,3%
Thailand2,5%
Malaysia2,0%
Brunei Darussalam1,1%
Timor-Leste1,0%
Asia Tenggara (Tanpa Singapura)4,0%

Baca berita dan informasi lainnya mengenai inflasi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.