Iklan
Moneter

Rupiah Tertekan Jelang RDG BI, Bagaimana Prospeknya?

Rupiah melemah ke Rp17.884 per dolar AS jelang RDG BI. Pengamat sebut pergantian Menkeu hingga revisi UU Keuangan Negara jadi sentimen penekan.

Dolar, Rupiah, Money Changer, Penukaran Uang
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarasia Tebet, Jakarta, Rabu (8/10/2025). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Nilai tukar rupiah masih tertekan menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) bulan September yang digelar Rabu (23/9). Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,21% ke level Rp17.884 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (22/9), dari sebelumnya Rp17.847.

Pelemahan serupa juga terjadi di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, yang ditutup di Rp17.883 per dolar AS, tergerus 0,39% dari Rp17.813 sehari sebelumnya. Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan, salah satu sentimen domestik yang masih membebani rupiah adalah keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara pekan lalu.

Selain pergantian pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu, pasar juga menyoroti pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Ibrahim menjelaskan, "Intervensi pun akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," kata Ibrahim, Selasa (22/9).

Di luar intervensi valuta asing, BI disebut juga memperkuat pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang lewat strategi operasi moneter yang lebih pro-market. Bank sentral turut memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan tambahan insentif.

Menurut Ibrahim, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146,5 miliar masih cukup untuk menopang langkah intervensi BI di pasar. Cadangan tersebut, menurutnya, menjadi bantalan penting di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah.

Revisi UU Keuangan Negara berpotensi membuka ruang defisit anggaran lebih tinggi untuk mendanai program sosial dan kesejahteraan. Ibrahim menyebutkan, Menkeu Suahasil telah menyatakan pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang diatur undang-undang perlu berlangsung secara konstruktif.

Sementara itu, batas rasio utang sebesar 60% terhadap PDB tetap menjadi acuan dalam pengelolaan APBN, kata Ibrahim.

Dari sisi eksternal, kenaikan harga minyak turut menekan rupiah. Sebagai negara pengimpor energi, kebutuhan valuta asing Indonesia untuk membiayai impor minyak ikut naik seiring harga yang terkerek.

Ibrahim menambahkan, agenda ekonomi AS pekan ini relatif lengang. Meski begitu, pasar tetap mencermati data awal Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global serta Survei Sentimen Konsumen University of Michigan untuk September.

"Pasar juga akan memantau serangkaian pernyataan dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terkini mengenai arah kebijakan di masa mendatang," kata Ibrahim.

Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Rabu (23/9) akan bergerak di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.930 per dolar AS.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Rupiah, dolar, dan Kurs dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.