periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di tiga provinsi wilayah Sumatera terus bertambah hingga menyentuh angka 883 jiwa.

Data resmi BNPB per Sabtu (6/12) pukul 09.45 WIB merinci dampak katastrofi ini meliputi 883 korban tewas, 520 orang hilang, serta 4.200 warga mengalami luka-luka di berbagai wilayah terdampak.

Sebaran korban jiwa terparah tercatat di Provinsi Aceh dengan total 345 kematian. Posisi kedua ditempati Sumatera Utara (Sumut) dengan 312 korban, disusul Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 226 jiwa.

Secara spesifik di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Agam di Sumbar mencatatkan angka kematian tertinggi dalam satu wilayah, yakni 171 jiwa.

Sementara itu, Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah paling mematikan di Aceh dengan 124 korban tewas. Di Sumut, Kabupaten Tapanuli Tengah mencatat 89 korban meninggal dunia.

BNPB turut membeberkan data pengungsian yang membeludak. Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan konsentrasi pengungsi terbesar akibat luapan air dan longsoran tanah.

Kabupaten Aceh Tamiang mencatat rekor pengungsi sebanyak 281.300 jiwa. Angka ini diikuti Aceh Timur dengan 163.400 jiwa, dan Aceh Utara sebanyak 115.000 jiwa.

Dampak kerusakan infrastruktur fasilitas umum di tiga provinsi tersebut sangat masif, mencapai lebih dari 1.100 unit bangunan vital.

Kerusakan mencakup 509 fasilitas pendidikan, 405 jembatan putus, 338 tempat ibadah, 270 fasilitas kesehatan, serta 221 gedung perkantoran.

Provinsi Aceh menderita kerusakan infrastruktur terparah dengan 312 jembatan putus, 258 fasilitas pendidikan rusak, dan 245 fasilitas kesehatan terdampak.

Di sektor perumahan, bencana hidrometeorologi yang melanda total 51 kabupaten ini telah menghancurkan sedikitnya 121.500 rumah warga.