periskop.id - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah dalam penanganan dampak banjir besar di Sumatra. Dalam rapat terbatas di Aceh, ia memerintahkan Kementerian Kesehatan untuk segera mengerahkan dokter internship (magang) guna mengatasi lonjakan penyakit pascabanjir seperti diare, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), serta penyakit kulit yang mulai merebak.

“Internship kita berapa yang sudah bisa? 74? Bisa juga kan? Saya kira bisa itu perguruan tinggi, bisa dikerahkan juga,” ujar Prabowo saat berdialog dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari Antara, Senin (8/12). 

Arahan ini muncul karena keterbatasan tenaga medis di daerah terdampak, di mana sebagian dokter setempat juga menjadi korban banjir.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merespons dengan meminta dukungan dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Ia mengusulkan agar sekitar 300 dokter dari TNI dan Polri diterjunkan selama tiga bulan untuk mendampingi para dokter magang. 

“Jadi saya minta tolong juga Pak Menhan kalau boleh saya butuh sekitar 300 dokter tiga bulan ke depan untuk mengisi sampai mereka jadi. Saya atasi sebagian, tapi kalau boleh TNI-Polri kan lebih gampang mobilisasinya,” kata Budi.

Rencana tersebut menargetkan setiap puskesmas di wilayah terdampak bencana akan mendapat pendampingan tenaga medis tambahan. 

Hal ini penting mengingat data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa pascabanjir, kasus diare dapat meningkat hingga 40% di lokasi pengungsian, sementara ISPA menjadi salah satu penyakit paling dominan yang menyerang anak-anak dan lansia.

Menteri Pertahanan Sjafrie menegaskan kesiapan pihaknya dalam mendukung langkah tersebut. 

“Kami menyiapkan tiga helikopter independen, terdiri dari satu perkuatan yang kami terima, kedua helikopter yang kami sewa. Ini diperuntukkan menjadi tim kesehatan mobil di setiap provinsi,” ujarnya. 

Helikopter ini akan difungsikan sebagai unit kesehatan bergerak yang dapat menjangkau daerah terisolasi.

Menurut Sjafrie, tim kesehatan yang dibentuk bersifat independen dan tidak dibebani distribusi logistik. Fokus utama mereka adalah melakukan pemeriksaan kesehatan langsung kepada para penyintas di lokasi pengungsian. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat deteksi dini penyakit menular dan mencegah penyebaran lebih luas.

Kondisi kesehatan pascabencana memang menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan WHO, bencana banjir di Asia Tenggara kerap memicu peningkatan penyakit berbasis air seperti leptospirosis dan diare. 

Selain itu, lingkungan lembap dan padat di pengungsian memperbesar risiko penyakit kulit serta ISPA. Hal ini menegaskan urgensi langkah cepat pemerintah dalam mengerahkan tenaga medis tambahan.

Selain tenaga medis, pemerintah juga menekankan pentingnya edukasi kesehatan bagi masyarakat terdampak. Upaya sederhana seperti menjaga kebersihan air minum, mencuci tangan dengan sabun, serta penggunaan masker di lokasi pengungsian dapat menekan risiko penularan penyakit. 

Kementerian Kesehatan berencana menggandeng perguruan tinggi untuk melibatkan mahasiswa kedokteran dalam program edukasi ini.