periskop.id - Sepekan setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, suasana di lokasi terdampak masih menyisakan duka. Selain kerusakan fisik, warga kini menghadapi aroma bau bangkai yang menyengat di berbagai titik.
Berdasarkan pantau Periskop di berbagai postingan media sosial, di Kabupaten Aceh Tamiang, Gubernur Aceh Muzakir Manaf yang meninjau lokasi mengungkapkan bagaimana kabupaten tersebut kini mengalami putus listrik, jalanan dipenuhi lumpur, dan bau bangkai menusuk hidung.
Bau tersebut belum dapat dipastikan berasal dari bangkai manusia atau hewan. Namun, kondisi ini memperburuk psikologis warga yang sudah kehilangan rumah dan sanak saudara.
Beberapa postingan menyebutkan bahwa aroma bangkai salah satunya datang dari ratusan mobil yang terparkir di sepanjang jalan, diduga adanya korban yang sudah meninggal tapi berada di dalam kendaraan dan belum dievakuasi.
Melansir Antara, warga Aceh juga menemukan bangkai Gajah Sumatra yang terbawa arus saat banjir bandang melanda kawasan Meureudue, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Gajah berusia dewasa ditemukan terjepit di antara puing-puing kayu. Salah seorang warga, M. Yunus, menjelaskan, bangkai gajah tersebut belum dapat dievakuasi lantaran alat berat belum mampu menembus lokasi temuan yang masih dipenuhi lumpur
Di Sumatera Barat, jalur Lembah Anai di Sumbar masih ditutup total, menghambat distribusi bantuan. Bau bangkai yang muncul di lokasi banjir menambah tantangan bagi tim SAR.
Media internasional seperti ABC News menyoroti skala kerusakan yang masif. Mereka menekankan bahwa selain korban jiwa, ancaman kesehatan akibat bau busuk dan genangan air menjadi perhatian global.
Menurut riset Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, banjir dapat memicu krisis kesehatan karena air yang tergenang menjadi media penyebaran penyakit. Bau bangkai memperkuat risiko infeksi saluran pernapasan dan penyakit kulit.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia juga menegaskan bahwa banjir meningkatkan bahaya keselamatan dan kesehatan, termasuk potensi penyakit menular akibat lingkungan yang tercemar.
Di lokasi pengungsian, warga mulai terserang flu, demam, batuk, dan penyakit kulit. Minimnya tenaga medis memperparah kondisi ini.
Bau bangkai yang menyebar di pemukiman rusak menimbulkan trauma. Seorang warga Aceh Utara mengatakan, “Kami tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga harus bertahan dengan bau busuk yang setiap hari semakin kuat." Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kesehatan mental. Bau bangkai menjadi simbol kehilangan yang sulit dihapus dari ingatan warga.
Para ahli kesehatan lingkungan menekankan pentingnya penanganan cepat, termasuk pembersihan bangkai hewan, evakuasi jenazah, dan penyemprotan disinfektan untuk mencegah wabah.
Hingga kini, tim SAR dan relawan terus bekerja di tengah aroma menyengat. Harapan warga hanya satu: agar pemerintah segera menuntaskan evakuasi dan pemulihan sehingga bau bangkai tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.
Tinggalkan Komentar
Komentar