Periskop.id - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) resmi merilis publikasi studi terbaru bertajuk “Makan (Tidak) Bergizi (Tidak) Gratis”. Laporan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana masyarakat menilai implementasi program unggulan pemerintah tersebut. Melalui pendekatan survei, studi ini menyoroti persepsi publik dari tiga aspek utama, yaitu rasa, kandungan gizi, hingga tingkat kebersihan makanan yang disajikan kepada para siswa.
Berdasarkan data yang dihimpun, mayoritas responden memberikan penilaian pada level moderat atau cukup baik. Dalam aspek rasa, sebanyak 54,19% responden menilai makanan MBG sudah cukup baik, sementara 12,67% menyatakan sangat baik. Namun, masih terdapat catatan negatif di mana 28,78% menilai kurang baik dan 4,36% merasa rasa makanan tersebut buruk.
Penilaian serupa juga terlihat pada indikator kandungan gizi dan kebersihan. Terkait gizi, sebanyak 57,43% responden memilih kategori cukup baik, disusul oleh 18,61% yang menilai sangat baik. Dari sisi higienitas, angka kepuasan mencapai titik tertinggi di mana 59,93% responden merasa kebersihan makanan sudah cukup baik, bahkan 21,06% menganggapnya sangat baik.
Tantangan Penolakan Makanan di Kalangan Anak
Meskipun persepsi orang tua secara umum berada di kategori cukup baik, realita di meja makan menunjukkan dinamika yang berbeda. Studi CELIOS mengungkapkan bahwa banyak anak yang masih merasa asing atau tidak cocok dengan menu yang diberikan.
Berdasarkan data, sebanyak 46,67% orang tua menyatakan anak mereka kadang-kadang menolak makanan dari program MBG karena alasan rasa yang tidak enak atau menu yang tidak biasa.
Bahkan, 14,32% responden mengaku anak mereka sering melakukan penolakan. Hanya 34,65% responden yang menyatakan anak mereka tidak pernah menolak pemberian makanan tersebut, sementara sisanya sebanyak 4,36% mengaku tidak tahu.
Sorotan pada Dominasi Makanan Olahan (Ultra-Processed Food)
Hal yang paling mengejutkan sekaligus menjadi bahan evaluasi kritis dalam studi CELIOS adalah jenis makanan yang paling sering disediakan. Di tengah kampanye hidup sehat dan pencegahan stunting, data menunjukkan bahwa menu yang disajikan masih didominasi oleh makanan olahan pabrik dan makanan cepat saji.
Rincian jenis makanan yang sering muncul dalam program MBG adalah sebagai berikut:
- Makanan cepat saji: 30%.
- Makanan olahan pabrik: 25%.
- Makanan berkadar garam/asin tinggi: 17%.
- Makanan/minuman tinggi gula: 16%.
Ironisnya, makanan rumahan atau real food yang masuk kategori non-UPF (Ultra-Processed Food) hanya menyumbang angka 6%. Selain itu, terdapat 4% responden yang melaporkan kualitas makanan yang kurang, seperti rasa yang tidak pas, masalah kebersihan, hingga kondisi makanan yang sudah basi. Sementara itu, menu campuran yang mengombinasikan pilihan sehat dan olahan hanya ditemukan sebanyak 1%.
Temuan ini menunjukkan adanya celah besar antara persepsi cukup baik yang diberikan masyarakat dengan kualitas nutrisi jangka panjang yang seharusnya menjadi fokus utama.
Dominasi makanan olahan dan cepat saji dalam program MBG menjadi catatan krusial bagi pemerintah untuk menata ulang rantai pasok dan standar gizi agar program ini benar-benar memberikan manfaat kesehatan yang nyata bagi generasi masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar