periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah serta masyarakat di wilayah Sumatera bagian utara dan tengah untuk bersiap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla mulai Februari 2026, meskipun saat ini wilayah tersebut masih sering dilanda banjir.
“Pada bulan Februari itu sudah mulai memasuki musim kemarau. Sehingga nanti pada bulan Februari itu kita sudah harus mewaspadai terkait dengan kebakaran hutan dan lahan di sebagian wilayah Sumatera di bagian tengah dan utara,” kata Kepala BMKG Teguh Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Bencana secara daring, Senin (29/12).
BMKG menyoroti adanya pola cuaca yang kontras dan unik di Indonesia pada awal tahun nanti. Saat Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sedang sibuk menghadapi puncak musim hujan, sebagian wilayah Sumatera justru mulai mengering.
Wilayah yang diprediksi masuk fase kering lebih cepat ini meliputi pesisir timur Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga sebagian Jambi. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ganda dari aparat kewilayahan setempat.
Teguh menjelaskan fenomena ini terjadi karena karakteristik wilayah ekuator atau khatulistiwa. Berbeda dengan Jawa yang hanya punya satu puncak musim hujan, wilayah Sumatera bagian utara memiliki pola dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam satu tahun.
“Khusus di daerah ekuator itu mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau. Jadi Februari nanti sudah harus waspada,” paparnya.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen bencana di daerah. Pemerintah daerah di Sumatera harus siap melakukan peralihan strategi yang cepat. Fokus penanganan harus segera digeser dari penanganan banjir pada Desember dan Januari menjadi pencegahan titik api pada Februari.
Sementara itu, BMKG memprediksi wilayah lain seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan justru masih akan diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi pada periode yang sama.
Potensi hujan di atas 500 milimeter per bulan masih mengintai Jawa Tengah pada Februari hingga Maret. Artinya, Indonesia akan menghadapi dua jenis bencana hidrometeorologi sekaligus, yakni basah dan kering, di lokasi yang berbeda pada waktu bersamaan.
BMKG berharap peringatan dini yang disampaikan jauh-jauh hari ini bisa menjadi acuan bagi Pemda dalam menyusun rencana operasi. Hal ini termasuk penyiapan peralatan pemadaman kebakaran hutan agar petugas tidak terlambat bergerak saat titik api atau hotspot mulai bermunculan.
Tinggalkan Komentar
Komentar