Periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan, sebanyak 48 rumah warga yang terdampak bencana longsor di Desa Pasi, Kabupaten Bandung Barat akan direlokasi dan dibangun kembali.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, jumlah rumah yang harus direlokasi tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring perkembangan kondisi di lokasi bencana.
“Data sementara rumah yang terdampak langsung ada 48 unit, yang harus dibangun kembali. Apakah nanti relokasinya terpusat atau mandiri, tentu akan disesuaikan. Angka ini juga bisa bertambah sesuai kondisi di lapangan,” ujar Suharyanto di Bandung Barat, Rabu (28/1).
Menurut dia, dalam waktu satu hingga dua hari ke depan masyarakat akan dipindahkan ke hunian sementara atau diberikan dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga per bulan. “Dana tunggu hunian itu bisa dimulai Januari, Februari dan Maret. Kalau sampai Maret rumah permanen belum selesai, akan diperpanjang,” serunya.
Suharyanto menambahkan, hunian sementara diprioritaskan bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang akibat longsor. Pendataan calon penerima hunian sementara, lanjut dia, dilakukan secara berjenjang mulai dari RT, RW, desa, hingga pemerintah kabupaten, kemudian diverifikasi bersama BNPB.
“Dalam menentukan apakah satu lokasi masih layak dihuni, pemerintah daerah akan berkomunikasi dengan BNPB untuk melihat dari sudut geologi,” ujarnya.
Ia menegaskan, hunian sementara dapat dibangun secara terpusat maupun mandiri, bergantung pada kesiapan lahan yang tersedia. “Kalau terpusat, yang menyiapkan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Hunian ini sifatnya sementara, bisa menggunakan tanah fasilitas umum atau meminjam lahan masyarakat yang lapang dan memungkinkan untuk dibangun,” kata Suharyanto.
Cuaca Buruk
Rabu (28/1) siang, Tim SAR gabungan menghentikan sementara proses pencarian korban longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, akibat cuaca buruk yang membahayakan keselamatan personel di lapangan.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian di Bandung Barat, Rabu, mengatakan hujan disertai angin kencang, membuat kondisi tanah semakin labil, sehingga berpotensi memicu longsor susulan. “Keselamatan personel menjadi prioritas. Dengan kondisi tanah yang labil dan cuaca yang terus memburuk, pencarian tidak memungkinkan untuk dilanjutkan,” kata Ade.
Ia menjelaskan, material lumpur yang tebal juga menyulitkan proses evakuasi korban yang diduga masih tertimbun di lokasi bencana. Meski demikian, sebelum operasi dihentikan sementara, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi satu jenazah yang selanjutnya dibawa ke fasilitas terkait untuk menjalani proses identifikasi.
Ade menambahkan, pencarian akan kembali dilanjutkan setelah cuaca membaik dan kondisi di lokasi dinyatakan aman bagi seluruh petugas. Ia menyampaikan, tim SAR gabungan juga memperoleh dukungan kesehatan berupa vaksinasi dan pemberian vitamin dari Kementerian Kesehatan serta Dinas Kesehatan setempat.
“Kami mendapat bantuan vaksin dan vitamin untuk menjaga kondisi tim pencari. Ini sangat berarti mengingat risiko di lapangan,” ujarnya.
Ade mengatakan, tenaga medis juga ditempatkan di setiap sektor pencarian guna mengantisipasi kondisi darurat yang mungkin dialami personel selama bertugas. “Di setiap lokasi ada tim dokter, sehingga bila terjadi sesuatu bisa langsung ditangani,” serunya.
Terkait durasi operasi pencarian, Ade menyebut pemerintah daerah mengusulkan pencarian dilakukan selama 14 hari, dengan evaluasi pada hari ketujuh, Jumat (30/1). “Kami mengikuti ketentuan tersebut. Nanti dievaluasi apakah perlu perpanjangan atau tidak, tergantung hasil pencarian,” ujarnya.
Hingga Rabu pagi jumlah korban yang belum ditemukan masih 32 orang. Sebelumnya sebanyak 48 kantong jenazah telah diserahkan tim SAR kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat.
Tinggalkan Komentar
Komentar