periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta masyarakat Indonesia merayakan pergantian tahun dengan cara sederhana dan penuh empati, mengingat saudara sebangsa di wilayah Sumatera dan Kalimantan sedang berjuang memulihkan diri pascabencana.
“Mohon dihimbau kepada masyarakat untuk merayakan tahun baru dengan sederhana, dengan doa bersama, dengan mengumpulkan bantuan untuk membantu saudara-saudara,” kata Pratikno saat memimpin Rapat Koordinasi Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi Basah secara daring, Jakarta, Senin (29/12).
Pratikno menekankan pentingnya mengubah bentuk perayaan tahun ini menjadi momentum solidaritas nasional. Ia mengajak publik tidak menggelar pesta pora berlebihan saat ribuan warga di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Kalimantan Selatan tengah berduka.
Mantan Menteri Sekretaris Negara ini menyarankan euforia pergantian tahun dialihkan ke kegiatan kemanusiaan. Aksi kolektif seperti doa bersama atau penggalangan donasi dinilai jauh lebih bermakna untuk meringankan beban para korban.
“Jadi tahun ini kita rayakan, ajak masyarakat merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda. Solidaritas bersama untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak,” ujarnya.
Selain alasan kemanusiaan, imbauan ini juga didasari faktor keselamatan. Pergerakan manusia di masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini sangat masif, mencapai angka 105 juta jiwa menurut data survei Kementerian Perhubungan.
Mobilitas tinggi tersebut berlangsung di tengah ancaman cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi potensi hujan lebat di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jawa dan Nusa Tenggara, pada periode pergantian tahun.
Kerumunan massa di luar ruangan saat cuaca buruk dinilai berisiko tinggi. Oleh karena itu, perayaan yang khidmat dan terpusat di lingkungan masing-masing dianggap lebih aman bagi keselamatan publik.
Pemerintah pusat telah menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk menyebarluaskan pesan ini. Gubernur hingga bupati/wali kota diminta aktif mengedukasi warganya agar memiliki kepekaan krisis (sense of crisis) terhadap situasi bencana nasional.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah aman, Pratikno meminta mereka tetap bersyukur namun tidak lengah. Kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi harus tetap dijaga sembari mengulurkan tangan bagi daerah yang terdampak.
Langkah ini diharapkan dapat membangun kohesi sosial yang kuat. Semangat gotong royong di awal tahun 2026 menjadi modal penting bangsa untuk bangkit bersama dari rentetan bencana alam yang terjadi di penghujung tahun.
Tinggalkan Komentar
Komentar