periskop.id - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memastikan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tetap dimulai 5 Januari 2026 dengan melonggarkan aturan atribut sekolah.

"Meskipun memang karena kondisi yang berbeda-beda, maka mereka tidak harus belajar sebagaimana yang normal. Artinya mereka boleh saja tidak pakai seragam, boleh saja mereka tidak pakai sepatu dan yang lain-lainnya," kata Abdul Mu'ti dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Banjir Longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, di Jakarta, Selasa (30/12).

Kebijakan lunak ini diterapkan mengingat banyaknya siswa yang kehilangan harta benda akibat banjir dan longsor. Pemerintah menekankan prioritas saat ini bukan pada kelengkapan seragam, melainkan pemulihan psikologis serta memastikan anak-anak kembali beraktivitas di lingkungan sekolah.

Abdul Mu'ti memaparkan data pemulihan fasilitas pendidikan di lapangan. Dari total 4.149 sekolah yang terdampak di tiga provinsi, sebanyak 85 persen atau sekitar 3.508 sekolah dinyatakan aman dan siap beroperasi kembali.

Kendala infrastruktur masih terjadi pada 54 sekolah yang mengalami kerusakan berat hingga total. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah mendirikan 54 tenda darurat sebagai ruang kelas sementara, dengan rincian 14 tenda di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 19 di Sumatera Utara.

Tim gabungan di lapangan juga masih berupaya membersihkan 587 sekolah lainnya yang tertimbun material sisa banjir. Proses pembersihan di lokasi-lokasi tersebut membutuhkan waktu lebih lama akibat tebalnya lumpur dan puing yang terbawa arus.

Terkait substansi pembelajaran, pemerintah memberlakukan kurikulum darurat dalam tiga skenario waktu. Pada fase tanggap darurat 0-3 bulan pertama, materi hanya akan difokuskan pada kompetensi esensial seperti literasi, numerasi, dan mitigasi bencana.

"Assessment yang sangat sederhana, tidak ada assessment formatif atau sumatif yang kompleks, fokus pada kehadiran, keamanan, dan kenyamanan murid," jelas Mu'ti mengenai metode penilaian selama masa transisi.

Bantuan finansial juga disalurkan langsung ke rekening para guru yang menjadi korban. Total dana bantuan guru di Aceh tercatat sebesar Rp15,7 miliar, sementara Sumatera Utara menerima Rp11,5 miliar dan Sumatera Barat Rp5,5 miliar.

Dukungan tambahan berupa ribuan paket school kit, buku pelajaran, hingga dana operasional pendidikan darurat terus didistribusikan. Upaya menyeluruh ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan mental dan pendidikan generasi muda di wilayah terdampak.