periskop.id – Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mengungkapkan ancaman krisis pangan serius di wilayahnya setelah tujuh bendungan irigasi utama hancur total tersapu banjir bandang yang mengakibatkan 6.000 hektare sawah produktif terancam tidak bisa ditanami kembali.

"Kami ada bendungan irigasi yang ada di Kabupaten Pidie Jaya itu sebanyak tujuh bendungan. Tapi bendungan irigasi ini saat ini semuanya sudah dibawa arus, tidak ada satu pun yang memang bisa berfungsi," jelas Sibral dalam Rapat Koordinasi Satgas Penanganan Bencana di Jakarta, Selasa (30/12).

Kerusakan infrastruktur pertanian ini menjadi pukulan telak bagi ekonomi daerah. Mayoritas penduduk Pidie Jaya menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Jika irigasi tidak segera diperbaiki, ribuan petani terancam kehilangan mata pencaharian. Risiko kemiskinan baru sudah di depan mata.

Selain ancaman gagal panen, Sibral juga melaporkan fenomena alam yang mengerikan. Banjir bandang mengubah bentang alam secara drastis.

Aliran sungai Krueng Meureudu melebar tak terkendali. Hulu sungai yang tadinya selebar 200 meter kini menyempit di hilir menjadi hanya 60 meter.

Akibatnya, air mencari jalan sendiri. Arus deras menjebol daratan. Alur sungai baru pun tercipta dan membelah kawasan pemukiman penduduk.

"Sudah terjadi sungai baru yang terjadi dalam kawasan pemukiman penduduk. Sehingga ada sekolah SDIT yang sudah separuh jatuh," paparnya.

Kondisi pemukiman yang selamat pun tak kalah memprihatinkan. Endapan lumpur menimbun rumah warga dengan ketinggian ekstrem.

Di beberapa titik, ketebalan lumpur mencapai 1 hingga 4 meter. Atap rumah kini sejajar dengan permukaan tanah.

Sibral menilai pembersihan lumpur ini nyaris mustahil dilakukan secara manual. Biayanya diprediksi jauh lebih mahal daripada membangun baru.

Ia mengusulkan solusi radikal kepada pemerintah pusat. Daripada mengeruk lumpur, lebih baik struktur bangunan rumah warga yang dinaikkan (elevated).

"Kalau kita bersihkan lumpur, saya rasa lebih besar biaya. Makanya kami sampaikan ke masyarakat, kalau memungkinkan kita menaikkan rumah saja," usulnya.

Derita warga makin lengkap dengan krisis air bersih. Tiga unit Instalasi Pengolahan Air (WTP) milik PDAM hancur total.

Suplai air bersih lumpuh. Warga kini hanya mengandalkan bantuan air tangki yang jumlahnya terbatas.

Pemerintah daerah berharap Kementerian PUPR segera turun tangan. Normalisasi sungai dan perbaikan irigasi menjadi harga mati agar Pidie Jaya tidak mati suri.