periskop.id – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperketat mekanisme promosi dan penempatan jabatan strategis, mulai dari level Kapolres hingga Direktur, dengan mewajibkan mekanisme Assessment Center sebagai alat ukur mutlak guna menjamin kompetensi pejabat yang terpilih.
"Mengapa kita menggunakan assessment center? Karena memang assessment center adalah tempat penilaian kompetensi yang masih tertinggi sampai saat ini, nilainya adalah 70%," kata Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia (As SDM) Irjen Pol. Anwar dalam Rilis Akhir Tahun 2025 Polri di Jakarta, Selasa (30/12).
Metode ini dipilih untuk menegakkan prinsip meritokrasi di tubuh Korps Bhayangkara. Polri berupaya mengikis budaya promosi yang hanya didasarkan pada subjektivitas, kedekatan personal, atau sekadar senioritas tanpa melihat kemampuan manajerial yang riil.
Anwar menjelaskan bahwa validitas asesmen ini belum tertandingi oleh metode seleksi lainnya. Dengan akurasi mencapai 70%, pimpinan Polri memiliki potret data yang objektif mengenai karakter, psikologi, dan kemampuan pemecahan masalah seorang calon pejabat.
Penerapan sistem ini sudah berjalan masif. Jabatan-jabatan kunci yang wajib melewati saringan ini meliputi Kapolres, Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda), Direktur di tingkat Polda, hingga Kepala Bidang dan pejabat Eselon II serta III.
"Jabatan Kapolres, Irwasda, para direktur Polda, para Karo SDM Polda... jabatan Eselon II dan III, dan yang lainnya," rincinya.
Guna mendukung sistem ini, Polri telah menyiapkan infrastruktur penilaian yang mumpuni dari pusat hingga daerah. Saat ini, terdapat 156 asesor kompetensi di Mabes Polri dan 1.613 asesor yang tersebar di berbagai Polda untuk memastikan proses seleksi berjalan independen.
Tidak hanya kemampuan manajerial, kompetensi teknis juga diuji. Polri memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dengan 455 asesor bersertifikat BNSP untuk menguji keahlian spesifik anggota, misalnya kemampuan sebagai penyidik tindak pidana atau penyidik kecelakaan lalu lintas.
"Selain untuk menduduki jabatan-jabatan manajerial tertentu, maka Polri juga mengases beberapa jabatan teknis," tambah jenderal bintang dua tersebut.
Kualitas Assessment Center Polri ini bahkan telah diakui secara internasional dengan dikantonginya sertifikat ISO 9001:2015. Hal ini membuktikan standar penilaian yang digunakan setara dengan korporasi global atau institusi modern lainnya.
Kredibilitas sistem ini membuat banyak instansi luar kepolisian kepincut. Anwar mengungkapkan ribuan pegawai dari kementerian, BUMN, hingga pemerintah daerah (Pemda) turut menggunakan jasa Assessment Center Polri untuk menyeleksi pejabat mereka sendiri.
Dengan pola pembinaan karier berbasis data ini, Polri berharap para perwira yang duduk di kursi pimpinan adalah figur-figur adaptif dan berintegritas. Mereka yang terpilih bukan karena "titipan", melainkan karena terbukti mampu memimpin organisasi di tengah dinamika tugas yang makin kompleks.
Tinggalkan Komentar
Komentar