periskop.id - Presiden Prabowo Subianto mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhasil mencatat capaian signifikan dalam satu tahun pelaksanaan. Hingga 6 Januari 2026, jumlah penerima manfaat program tersebut telah menembus 55 juta orang, termasuk anak-anak dan ibu hamil.
“Dilaporkan kepada saya hari ini 55 juta penerima manfaat. 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan setiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil,” ujar Prabowo saat menyampaikan Taklimat Awal Tahun Presiden di Hambalang, Selasa (6/1).
Berkaca pada pengalaman negara lain, pemerintah memutuskan mempercepat implementasi MBG secara nasional. Prabowo membandingkan capaian Indonesia dengan Brasil, yang menurut pengakuan Presiden Brasil, membutuhkan waktu 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat.
“Kita satu tahun mencapai 55 juta penerima manfaat,” ujar Prabowo.
Meski mengakui adanya kekurangan dan potensi penyimpangan dalam pelaksanaan program berskala besar tersebut, Prabowo menegaskan capaian MBG secara keseluruhan sangat tinggi.
“Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan. Tapi kalau kita pelajari dengan objektif statistik, boleh dikatakan bahwa kita 99,99% berhasil,” katanya.
Prabowo menegaskan pemerintah tidak akan berpuas diri dan menargetkan pelaksanaan program tanpa cacat. Pengawasan dan pengamanan, kata dia, terus diperkuat untuk memastikan manfaat program tepat sasaran.
Dalam taklimat tersebut, prabowo juga menyinggung terkait banyak pakar yang mengejek program MBG.
“Mereka katakan MBG pasti gagal, tapi kita buktikan kepada mereka MBG berhasil,” tegasnya.
Prabowo menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut kini justru menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku kerap didatangi anak-anak di daerah yang mempertanyakan kapan mereka akan menerima manfaat MBG.
“Anak-anak panggil saya, teriak, ‘Pak, kapan kami terima MBG?’,” ujarnya.
Diketahui, program MBG menjadi program unggulan Presiden karena latar belakang tingginya angka kekurangan gizi pada anak. Berdasarkan kajian pemerintah, rata-rata satu dari lima anak Indonesia atau sekitar 20% mengalami kekurangan gizi. Bahkan di sejumlah daerah, angkanya mencapai lebih dari 30%.
Selain itu, Prabowo menyoroti fakta bahwa puluhan juta anak Indonesia berangkat ke sekolah tanpa sarapan, dengan sebagian hanya mengonsumsi nasi dan lauk seadanya.
“Itu yang jelas dikatakan malnutrisi, stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal,” katanya.
Tinggalkan Komentar
Komentar