Periskop.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyarankan, masyarakat khususnya di wilayah rawan bencana memiliki tas siaga bencana. Tas tersebut harus berisi makanan, minuman dan keperluan lainnya untuk setidaknya selama tiga hari.

"Tiga hari menjadi standar untuk masa tanggap darurat awal," kata Ketua Subkelompok Logistik dan Peralatan BPBD DKI Jakarta, Michael Sitanggang dalam seminar daring di Jakarta, Rabu (4/2). 

Dalam kondisi bencana, misalnya banjir, biasanya setelah tiga hari, berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat seperti tenda pengungsian dan lainnya dari pemerintah telah tersedia. Begitu juga dengan kebutuhan dasar warga terdampak bencana.

"Jadi masa tangkap darurat awal itu biasanya bagaimana dalam waktu tiga hari awal itu biasanya semuanya masih belum siap," serunya. 

Tas siaga bencana bisa berupa tas apa saja untuk memuat sejumlah barang, seperti dokumen berharga (tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara digital) dan pakaian untuk tiga hari. Selain itu, air mineral, pengisi daya (power bank), peluit, senter, uang tunai, obat-obatan dan P3K, makanan ringan yang tahan lama seperti biskuit, masker dan pencuci tangan (hand sanitizer).

"Apabila terjadi kedaruratan bencana, dalam kondisi yang sangat cepat, maka bisa langsung ambil tas siaga bencana ini untuk menuju ke lokasi pengungsian," kata Michael.

Dia pun menyarankan, masyarakat khususnya di lokasi rawan bencana untuk menyiapkan tas siaga bencana terutama di masa-masa puncak musim hujan seperti saat ini. 

BPBD DKI Jakarta mencatat setidaknya terdapat 25 kelurahan di 17 kecamatan di Jakarta yang rawan banjir. Kelurahan ini antara lain Pluit, Pademangan Barat, Rorotan, Rawa Buaya, Tegal Alur, Kedoya Selatan dan Kedoya Utara.

Lalu, Rambutan, Cawang, Cililitan, Cipinang Melayu, Kebon Pala, Makasar, Bidara Cina, Kampung Melayu, Pondok Labu, Cipete Utara, Petogogan, Cipulir, Pondok Pinang, Bangka, Jati Padang, Pejaten Timur dan Ulujami.

Sementara itu, hari ini banjir melanda Jakarta, yakni di kawasan Jalan Pondok Karya Komplek RW 04, Pela Mampang, Jakarta Selatan, dengan ketinggian air mencapai 45 sentimeter (cm).

Sebanyak sembilan Rukun Tetangga (RT) di empat Rukun Warga (RW) terdampak banjir akibat hujan lokal dengan intensitas lebat dan luapan Kali Mampang, namun tak ada pengungsi.

Selain itu, sebanyak 39 RT di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan, juga sempat terendam banjir setelah diguyur hujan deras dan meluapnya Kali Krukut. Ketinggian air yang masuk ke permukiman warga mencapai 30 cm.

Tim Kegawatdaruratan

Sebelumnya, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiagakan semua fasilitas kesehatan (faskes) dan menyiapkan tim kegawatdaruratan. Khususnya di saat curah hujan tinggi yang meningkatkan risiko bencana banjir.

"Saya betul-betul menekankan pada semua pimpinan faskes apakah itu Puskesmas atau rumah sakit, untuk selalu menyiagakan tim kegawatdaruratannya yang bisa setiap saat siap untuk bertugas," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati di Jakarta, Rabu.

Merujuk peringatan dini BMKG, dia mengingatkan, curah hujan tinggi diprakirakan akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Akibatnya, risiko banjir dan genangan akan meningkat dan ini akan mengganggu mobilitas serta akses ke semua hal termasuk ke fakses.

Selain itu, lonjakan jumlah pasien kemungkinan akan tinggi, ditambah munculnya risiko infeksi akibat kondisi air tercemar dan berbagai penyakit yang kemudian timbul akibat banjir.

Karena itu, tenaga kesehatan harus siap dengan manajemen bencana dan diharapkan terus memperbarui kompetensi. Dengan begitu, nantinya tidak hanya menolong diri sendiri namun juga dapat memberikan pertolongan serta memberikan kontribusi kepada masyarakat.

"Tenaga kesehatan bersama dengan tim BPBD pasti juga akan menjadi garda terdepan dalam setiap kondisi bencana dan ketika tidak memiliki kompetensi, tidak siap, maka bisa menjadi korban," ujar Ani.