periskop.id - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengungkapkan sopir taksi listrik Green SM berinisial RRP baru bekerja selama tiga hari saat kecelakaan maut terjadi di perlintasan sebidang Ampera, Bekasi Timur.
Diketahui, insiden yang melibatkan kereta api tersebut berlangsung pada Senin (27/4) malam.
“Dari hasil keterangan driver atau pun sopir taksi online yang sudah dimintai keterangan bahwa yang bersangkutan baru bekerja itu semenjak tanggal 25 April 2026,” kata Budi di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (30/4).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, RRP mengaku hanya mengikuti pelatihan singkat selama satu hari sebelum resmi mengoperasikan kendaraan. Materi pelatihan tersebut bahkan sangat terbatas pada pengenalan fitur dasar mobil listrik.
“Jadi terkait tentang bagaimana mengendarai, cara menghidupkan kendaraan tersebut, ini baru pengenalan dasar itu dilakukan satu hari. Nah, bagaimana menyalakan, mematikan mobil serta cara lampu sein, parkir dan lain-lain. Ini terjadi, ini masih didalami oleh teman-teman penyidik,” kata Budi.
Penyidik telah meminta keterangan RRP sebanyak dua kali pada Selasa (28/4) dan Rabu (29/4). Polisi masih terus menggali informasi mendalam terkait kesiapan pengemudi dalam menangani kendaraan listrik tersebut.
Meski telah diperiksa secara intensif, kepolisian belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Status RRP hingga saat ini masih sebagai saksi atas insiden yang merenggut banyak nyawa tersebut.
Kecelakaan tragis ini bermula ketika taksi Green SM mendadak mogok tepat di tengah perlintasan kereta api. Gangguan pada sistem kelistrikan mobil diduga menjadi pemicu utama kendaraan berhenti secara tiba-tiba.
Sesaat setelah mogok, satu rangkaian KRL yang melintas langsung menghantam mobil listrik tersebut. Benturan keras ini mengawali rangkaian kejadian mematikan di lokasi kejadian.
Dampak kecelakaan pertama menyebabkan satu rangkaian KRL tujuan Cikarang harus melakukan berhenti darurat. Kereta tersebut tertahan di area Stasiun Bekasi Timur guna penanganan awal.
Nahas, saat posisi berhenti darurat, rangkaian KRL tersebut justru ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. Tabrakan beruntun antar kereta ini mengakibatkan kerusakan parah pada bagian belakang.
Gerbong khusus wanita menjadi titik paling parah yang mengalami kerusakan hingga kondisinya ringsek. Kejadian ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Pihak kepolisian masih fokus mendalami kronologi serta aspek teknis kendaraan listrik yang terlibat. Investigasi berlanjut untuk memastikan penyebab pasti gangguan listrik pada mobil taksi tersebut.
Tinggalkan Komentar
Komentar