periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menilai kiai dan ulama memiliki peran yang sangat krusial di tengah masyarakat hingga lapisan terbawah.

Tokoh-tokoh agama tersebut dipandang memiliki kedekatan emosional dan sosial yang kuat dengan warga.

Ia menjelaskan, kebersamaan yang terjalin erat membuat para pemimpin spiritual ini menjadi figur yang paling memahami kondisi riil di lapangan.

Kedekatan tersebut dirasakan sangat nyata terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedesaan.

"Nahdlatul Ulama, organisasi para kiai, para ulama. Para kiai dan para ulama adalah menurut saya tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat. Paling dekat apalagi dengan rakyat di pedesaan," kata Prabowo, Selasa (23/6).

Hal itu dia sampaikan saat menghadiri acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Prabowo menyatakan, para pemuka agama ini dapat merasakan secara langsung beragam kesulitan serta persoalan hidup yang dialami oleh masyarakat bawah.

Hambatan-hambatan sosial ekonomi di tingkat akar rumput disebutnya selalu terdeteksi oleh radar para ulama.

Kondisi tersebut dinilainya memiliki kemiripan dengan posisi aparat keamanan negara seperti jajaran tentara dan polisi.

Menurutnya, personel TNI dan Polri juga tumbuh serta lahir dari lingkungan masyarakat yang sama.

"Karena itu, para kiai, para ulama paham, mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan para ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat paling bawah," kata Prabowo.

Ia kemudian melontarkan candaan segar mengenai relasi kepatuhan antara dirinya sebagai kepala negara dengan para pemuka agama.

Dinamika interaksi tersebut dianggapnya bergantung pada lokasi tempat mereka saling bertemu.

Menurutnya, ia berkewajiban untuk menaruh rasa hormat dan patuh kepada para kiai saat menghadiri forum keagamaan.

Namun, situasi sebaliknya disebut akan terjadi apabila para tokoh agama tersebut berkunjung ke Istana Negara.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk nyata dari integrasi yang harmonis antara pemimpin pemerintahan dan tokoh agama.

Sinergi tersebut dipandang penting untuk menjaga stabilitas dan memajukan kehidupan berbangsa.

"Harus patuh dengan kiai kalau di sini. Di Istana, kiai patuh sama saya. Itu namanya ulama sama umara (pemimpin) bersatu untuk bangsa dan negara," tutup Prabowo.