periskop.id - Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Rudi Setiawan mengungkap motif kasus penyekapan serta penganiayaan sadis terhadap seorang wanita berinisial YTR di Kabupaten Bandung.

Pelaku bernama Taufik Hidayat tega menyiksa kekasihnya sendiri akibat dipicu kebiasaan mengonsumsi alkohol.

Menurut Rudi, pelaku hampir setiap hari menenggak minuman keras hingga memicu pertengkaran hebat dengan korban.

Hubungan asmara sepasang kekasih tersebut dinilai tidak sehat karena kerap diwarnai tindakan kekerasan fisik.

"Kami sudah melakukan tes narkoba, hasilnya negatif. Pelaku mengakui sebelumnya mengonsumsi minuman keras," kata Irjen Rudi dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Barat, Selasa (23/6).

Rudi menambahkan, tersangka telah mengakui seluruh perbuatan buruknya kepada penyidik.

Pelaku juga menyampaikan rasa penyesalan yang mendalam setelah menyiksa korban.

Pengaruh buruk minuman beralkohol disebut menjadi faktor utama yang merusak kesadaran pelaku.

Akibatnya, emosi tersangka menjadi tidak stabil dan mudah menganiaya kekasihnya saat terjadi cekcok.

"Pelaku menyampaikan bahwa pengaruh konsumsi alkohol menjadi salah satu faktor yang memicu tindakannya. Hampir setiap hari mereka cekcok," katanya.

Pihak kepolisian kini masih terus melakukan pendalaman intensif terhadap kasus penganiayaan ini.

Tim penyidik tengah mengusut detail rangkaian penyekapan yang diduga telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

Sebelum ditangkap, Taufik diketahui sempat melarikan diri ke daerah Tangerang karena menganggap wilayah itu aman dari kejaran petugas.

Namun pelarian tersebut gagal setelah pelaku merasa ketakutan, curiga kepada semua orang, dan bingung arah.

Rudi menegaskan bahwa pelarian tersangka ke luar kota tersebut dipastikan dilakukan seorang diri tanpa bantuan orang lain.

Pelaku akhirnya memutuskan kembali ke Jawa Barat hingga pergerakannya berhasil dilacak oleh aparat.

Taufik kemudian ditangkap di rumah kerabatnya di kawasan Perumahan Griya Pesona, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa sore sekitar pukul 18.30 WIB setelah dibuntuti sejak pagi.

"Pelaku merasa takut, curiga kepada semua orang, dan tidak tahu harus pergi ke mana hingga akhirnya kembali ke Majalaya dan berhasil kami tangkap," tutup Rudi.