Periskop.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai wilayah paling siap di Indonesia untuk menerapkan Virtual Power Plant (VPP) atau pembangkit listrik virtual. Kesiapan tersebut ditopang jaringan utilitas bawah tanah, konektivitas data, serta ekosistem energi bersih yang sejak awal dirancang secara terintegrasi.
VPP merupakan sistem digital yang menghubungkan berbagai sumber energi terdistribusi, seperti panel surya, baterai penyimpan daya, kendaraan listrik, dan beban listrik yang dapat dikendalikan. Seluruh sumber tersebut dikelola melalui satu sistem agar dapat beroperasi layaknya sebuah pembangkit berkapasitas besar.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN Abdul Wachid Syamroni mengatakan, penerapan VPP di Indonesia masih menghadapi kendala karena jaringan listrik yang ada pada umumnya dibangun untuk melayani pembangkit konvensional, bukan energi terbarukan yang produksinya berubah mengikuti kondisi alam.
"Saat ini sistem ketenagalistrikan kita terutama jaringan kelistrikan kita itu memang secara umum, global dimanapun, itu tidak didesain untuk berbasis renewable energy atau pembangkit yang berfluktuatif terhadap ketersediaan sumber daya alam," katanya dalam diskusi di Jakarta, Rabu (29/7).
Infrastruktur Bawah Tanah Jadi Keunggulan IKN
Menurut Abdul, tantangan tersebut relatif lebih kecil di IKN karena infrastruktur kota baru itu dirancang untuk mengadopsi digitalisasi dan modernisasi kelistrikan sejak tahap awal pembangunan.
Salah satu infrastruktur yang dinilai mendukung adalah Multi Utility Tunnel atau MUT. Terowongan bawah tanah itu digunakan sebagai jalur terpadu untuk menempatkan jaringan listrik, telekomunikasi, gas, air minum, dan sejumlah utilitas perkotaan lainnya.
"Jadi tidak ada kabel yang terlihat seperti yang kita ketahui bersama. Dan mereka sudah tunneling, underground tunneling. Mereka menyebutnya multi utility tunnel, MUT," ujarnya menjelaskan kesiapan IKN.
Pedoman teknis Otorita IKN menjelaskan MUT berfungsi sebagai koridor distribusi utilitas yang terbagi dalam sejumlah kompartemen. Infrastruktur tersebut membawa saluran listrik, jaringan gas, pipa air dan hidran, serta kabel serat optik yang mendukung konektivitas berkecepatan tinggi.
Ketersediaan listrik dan jaringan komunikasi data dalam satu sistem menjadi penting karena VPP membutuhkan pertukaran informasi secara langsung. Operator harus dapat memantau produksi, konsumsi, kapasitas baterai, dan kondisi jaringan sebelum mengatur penyaluran listrik secara otomatis.
"Di tunnel itu ada tiga unsur yang langsung dimasukkan. Yang pertama adalah listrik, yang kedua adalah fiber optik komunikasi data tersebut, yang ketiga adalah gas. Jadi sudah hampir dengan negara-negara maju ini apa yang sudah ada di IKN itu," lanjutnya.
PLTS 50 MW Jadi Modal Pengembangan VPP
Selain MUT, IKN telah memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 50 megawatt yang dilengkapi baterai penyimpanan energi sebesar 14,2 megawatt hour. Menurut Otorita IKN, fasilitas tersebut resmi beroperasi sejak 28 Desember 2024.
Keberadaan pembangkit surya dan baterai menjadi modal teknis untuk pengembangan VPP. Ketika produksi listrik tenaga surya sedang tinggi, kelebihan daya dapat disimpan atau disalurkan ke pengguna lain. Sebaliknya, baterai dapat membantu memasok listrik ketika produksi panel surya menurun.
Namun, kesiapan infrastruktur belum berarti VPP telah beroperasi secara penuh di IKN. Penerapannya tetap membutuhkan perangkat kendali, sensor, meter pintar, pusat pengolahan data, prosedur keamanan siber, serta aturan mengenai hubungan antara pemilik sumber energi dan pengelola jaringan.
Rencana Strategis Otorita IKN 2025–2029 telah memasukkan penyelenggaraan layanan energi cerdas yang meliputi smart grid, pemantauan konsumsi energi, pengelolaan beban listrik, jaringan gas, dan fasilitas pengisian kendaraan listrik. Rencana itu dinilai sejalan dengan kebutuhan dasar pengembangan VPP.
Daerah Lain Perlu Tingkatkan Jaringan
Abdul menilai penerapan VPP di luar IKN perlu didahului peningkatan infrastruktur kelistrikan dan komunikasi. Sistem ini membutuhkan data secara real time, koneksi digital yang stabil, serta perlindungan siber untuk mencegah gangguan terhadap pengoperasian jaringan listrik.
Meski demikian, peluang penerapan tidak hanya terdapat di IKN. Sejumlah kawasan permukiman mandiri berskala besar, termasuk di wilayah Serpong, Tangerang Selatan, dinilai memiliki jaringan listrik bawah tanah yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi uji coba.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya juga mencatat VPP dapat digunakan untuk mengintegrasikan pembangkit listrik terdistribusi sekaligus meningkatkan keandalan sistem. Teknologi ini semakin relevan ketika penggunaan panel surya atap, baterai, dan kendaraan listrik terus berkembang.
Bagi IKN, penerapan VPP berpotensi mendukung target penggunaan energi terbarukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik kawasan. Meski demikian, realisasinya tetap bergantung pada integrasi teknologi, kesiapan regulasi, model bisnis, dan kemampuan pengamanan sistem digital.
Tinggalkan Komentar
Komentar