periskop.id - Bangsa Indonesia kehilangan sosok pemikir dan negarawan besar. Prof. Dr. Juwono Sudarsono meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026. Mantan Menteri Pertahanan ini wafat pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Ia berpulang pada usia 84 tahun. Jenazahnya dimakamkan dengan penghormatan penuh di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada Minggu, 29 Maret 2026.

Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam diskursus ilmu politik dan strategi pertahanan negara. Ia adalah figur langka yang sukses menjembatani dunia akademik dengan kerasnya realitas birokrasi dan militer.

Jejak Intelektual Bertaraf Global

Juwono lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 5 Maret 1942. Ia adalah putra Dr. Sudarsono, mantan Menteri Dalam Negeri era Kabinet Sjahrir. Kapasitas intelektualnya terbentuk di kampus-kampus bergengsi dunia.

Mengutip catatan University of California, Berkeley, ia meraih gelar Master of Arts (M.A.) pada tahun 1970. Ia juga lulus dengan gelar Ph.D. dari London School of Economics and Political Science (LSE) pada tahun 1975. Semasa di Berkeley, ia menjadi saksi gelombang protes mahasiswa Amerika Serikat. Pengalaman ini sangat membentuk perspektifnya mengenai kebebasan sipil dan demokrasi.

Di ranah domestik, dedikasinya berpusat di Universitas Indonesia (UI). Ia merintis dan melembagakan Departemen Ilmu Hubungan Internasional di FISIP UI pada tahun 1985. Ia juga menjabat sebagai Dekan FISIP UI selama dua periode. Mengutip arsip kurikulum Universitas Indonesia, pemikiran Juwono selalu melampaui batas disiplin ilmu yang kaku. Ia selalu mengajarkan ilmu hubungan internasional sebagai arena lintas disiplin.

Menembus Monolit Militer

Puncak pengabdian historis Juwono terjadi di masa transisi reformasi. Ia memiliki rekam jejak unik sebagai menteri di bawah empat presiden berbeda. Posisi paling bersejarah adalah saat ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Melansir publikasi riset dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), penunjukan Juwono sangat mendobrak sejarah. Ia mematahkan tradisi dominasi perwira militer di pucuk pimpinan kementerian tersebut selama empat dekade. Hal ini menjadi tonggak awal penerapan supremasi sipil pasca-runtuhnya Orde Baru.

Ia mengeksekusi reformasi sektor keamanan dengan gaya yang sangat pragmatis. Mengutip arsip wawancara Innovations for Successful Societies, Princeton University, Juwono memaparkan tugas utamanya kala itu. Ia harus menetralisasi peran politik militer secara bertahap tanpa memicu perlawanan. Pendekatan persuasifnya membuat militer secara sukarela menarik diri dari panggung politik praktis.

Wariskan “Minimum Essential Force

Pada masa jabatan keduanya sebagai Menteri Pertahanan (2004–2009), Juwono meninggalkan cetak biru pertahanan yang sangat krusial. Melansir laporan analisis dari lembaga RSIS, Juwono adalah konseptor utama doktrin Minimum Essential Force (MEF) pada tahun 2005. Konsep ini merombak strategi pengadaan senjata Indonesia menjadi berbasis kapabilitas. Kebijakan ini juga sangat berorientasi pada kemandirian industri pertahanan lokal.

Ia juga menghadapi tantangan pelik terkait kemandirian fiskal militer. Melansir catatan investigasi Human Rights Watch (HRW), Juwono dinilai sangat berhati-hati dalam melikuidasi bisnis militer. Ia secara realistis menyoroti anggaran negara saat itu hanya mampu menutupi 30 persen kebutuhan riil militer. Oleh karena itu, ia memilih agar proses reformasi finansial militer dilakukan secara bertahap.

Geopolitik Bebas-Aktif

Pemikiran Juwono melesat jauh mendahului zamannya. Ia sangat gencar mengartikulasikan konsep pertahanan nir-militer. Mengutip berbagai esai akademiknya, ia meyakini ancaman terbesar abad ke-21 bukanlah invasi fisik.

Ancaman kedaulatan yang nyata adalah kemiskinan, pelemahan sumber daya manusia, asimetri teknologi, dan ketidakadilan sosial.

Sebagai pengamat geopolitik, ia selalu menjadi benteng intelektual bagi doktrin politik luar negeri bebas aktif. Melansir riset geopolitik dari Lowy Institute, pemikiran Juwono Sudarsono terus relevan hingga saat ini. Ia berulang kali menegaskan agar Indonesia tidak sekadar menjadi proksi dalam rivalitas hegemonik Amerika Serikat dan Tiongkok.

Hari ini, Indonesia melepas kepergian seorang patriot sejati. Ia memang tidak pernah mengangkat senjata di medan tempur. Namun, pemikirannya terbukti menjadi perisai terkuat bagi kedaulatan negara dan kematangan demokrasi. Selamat jalan, Prof. Juwono Sudarsono. Pengabdian dan gagasan besarnya akan terus abadi membimbing arah bangsa ini.