Periskop.id - Kabar duka mendalam menyelimuti dunia usaha serta olahraga Indonesia. Michael Bambang Hartono, pengusaha senior yang dikenal sebagai salah satu pemilik Grup Djarum sekaligus salah satu orang terkaya di Indonesia, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (19/3).
Tokoh ikonik ini mengembuskan napas terakhirnya di Singapura pada pukul 13.15 waktu setempat dalam usia 86 tahun.
Kepergiannya meninggalkan jejak warisan yang luar biasa, tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga dalam perkembangan olahraga bridge di tanah air dan kancah internasional.
Dedikasi Seumur Hidup di Dunia Bridge
Semangat Bambang dalam mensosialisasikan olahraga ini terus menyala hingga akhir hayatnya. Ia aktif menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (PB GABSI) dan menjadi pembina di Diponegoro Bridge Club (DBC).
Dalam struktur tim Bridge Indonesia, ia juga pernah memegang peran strategis sebagai kapten tim atau playing captain.
Kepergian Michael Bambang Hartono merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Ia membuktikan bahwa usia dan kekayaan bukanlah penghalang untuk terus berprestasi dan berkontribusi secara nyata bagi dunia olahraga internasional.
Kecintaan Michael terhadap olahraga bridge bukanlah hobi sesaat. Ia diketahui telah menekuni olahraga kartu ini sejak usia dini, yakni sekitar 6 hingga 9 tahun. Dedikasi tersebut membawanya menjadi atlet nasional yang membanggakan.
Dikutip dari laman resmi Asian Games 2018, Bambang Hartono tercatat sebagai atlet Indonesia tertua yang berlaga di ajang tersebut pada usia 79 tahun. Tidak hanya berpartisipasi, ia sukses menyumbang medali perunggu untuk Indonesia.
Prestasi internasional lainnya juga tercatat pada tahun 2015 saat ia bersama tim Indonesia yang diperkuat Henky Lasut, Eddy Manoppo, Denny Sacul, Bert Toar Polii, dan Munawar Sawirudin menjuarai APBF Championship setelah mengalahkan Hong Kong.
Pejuang Bridge di Panggung Internasional
Sebagai seorang konglomerat sekaligus pembina PB GABSI, Bambang menggunakan pengaruhnya untuk mengangkat harkat olahraga bridge.
Ia adalah sosok kunci yang memperjuangkan agar bridge dapat dipertandingkan secara resmi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA Games, hingga Asian Games.
Upaya ini memerlukan kerja keras yang luar biasa. Demi memastikan bridge masuk dalam daftar cabang olahraga di Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang, Bambang secara personal menghubungi Komite Olahraga Nasional dari hampir 50 negara di seluruh Asia.
Berkat dedikasinya tersebut, World Bridge Federation (WBF) menganugerahkan medali emas kepadanya dalam acara 60 tahun Asian Pacific Bridge Federation (APBF).
Filosofi Bridge: Senjata Melawan Pikun
Bagi Bambang Hartono, bridge adalah lebih dari sekadar permainan karena olahraga ini memiliki manfaat kesehatan mental yang signifikan. Ia meyakini bahwa bermain Bridge adalah cara efektif untuk mencegah kepikunan dan penyakit Alzheimer.
Berdasarkan berbagai literatur, pikun terjadi saat sel saraf otak terganggu karena kurang stimulasi, dan bridge memberikan tantangan otak yang intens.
Bambang menjelaskan bahwa pemain bridge dituntut memiliki IQ di atas 120 karena perhitungan yang rumit. Terdapat proses bidding yang melibatkan pengumpulan data, analisa, hingga pengambilan keputusan strategi.
Selain kecerdasan, pemain juga harus memiliki manajemen emosi yang baik untuk menghadapi gangguan atau kecurangan lawan. Baginya, bridge membuat otak terus berputar sehingga tidak cepat aus dan kemampuannya tetap terasah dengan baik.
Tinggalkan Komentar
Komentar