periskop.id - Sejak 1985, dunia memperingati 5 Desember sebagai International Volunteer Day. Namun, setelah empat dekade berlalu hingga 2025 ini, gaung peringatan tersebut nyaris tak terdengar di Indonesia.
Kita memang memiliki Hari Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) setiap 26 Desember. Namun, itu hanyalah satu kepingan kecil dari mozaik kerelawanan kita yang begitu luas. Absennya peringatan "Hari Relawan Nasional" yang inklusif menjadi sebuah ironi besar bagi bangsa ini.
Mengapa ironi? Karena Indonesia bukanlah pemain cadangan dalam kancah filantropi global.
Rekam jejak kita gemilang. Dalam World Giving Index (WGI) 2024, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia.
Meski laporan terbaru World Giving Report 2025 mencatat penurunan peringkat akibat perbedaan pendekatan metodologi, hal tersebut tidak menghapus fakta sejarah bahwa DNA bangsa ini adalah solidaritas. Data lembaga Gallup (2017) juga pernah mencatat partisipasi relawan kita mencapai 53%, jauh mengungguli Amerika Serikat (39%) dan Tiongkok (7%).
Kita memiliki mentalitas "Juara Dunia". Namun sayangnya, negara belum menyediakan panggung kehormatan formal bagi para pahlawan sunyi ini.
Bandingkan dengan Ghana yang merayakan Hari Relawan Nasional setiap 21 September, atau Filipina yang mendedikasikan satu bulan penuh di Desember. Bahkan negara maju seperti Amerika Serikat dan Britania Raya memiliki "Pekan Relawan Nasional" sebagai agenda resmi negara.
Di Indonesia, inisiatif ini masih bergerak sporadis. Semangat kerelawanan yang membara di akar rumput kerap kali bertepuk sebelah tangan dengan respons pemerintah yang dingin.
Ucapan selamat dan apresiasi resmi pada 5 Desember hanya muncul dari segelintir instansi. Seolah-olah, kerelawanan hanyalah urusan komunitas, bukan aset strategis bangsa.
Gen Z dan Wajah Baru Gotong Royong
Desakan akan hadirnya Hari Relawan Nasional menjadi semakin relevan ketika melihat siapa yang kini memegang kemudi gerakan sosial: Generasi Z.
Gen Z hadir mengubah lanskap kerelawanan dari sekadar "kewajiban moral" menjadi "gaya hidup". Mereka tumbuh dengan sensibilitas tinggi terhadap isu-isu krusial, seperti krisis iklim, kesehatan mental, hingga kesenjangan digital.
Bagi Gen Z, peduli adalah bagian dari identitas. Keunggulan mereka terletak pada penguasaan teknologi. Gawai di tangan mereka bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang mobilisasi yang mampu menggalang dukungan masif dalam hitungan jam.
Kekuatan kolaborasi mereka melampaui sekat-sekat organisasi kaku yang dianut generasi sebelumnya. Mereka cair, adaptif, dan siap bekerja sama dengan siapa saja, baik itu influencer, sektor privat, maupun pemerintah, asalkan tujuannya tercapai.
Dari Validasi Menuju Legitimasi
Sering kali, Gen Z dilabeli sebagai generasi yang "haus validasi". Dalam konteks sosial, stigma ini perlu kita luruskan. Karakteristik ini sejatinya adalah pedang bermata dua yang, jika dikelola dengan benar, bisa menjadi mesin penggerak perubahan yang dahsyat.
Di era digital, "validasi" atau pengakuan publik berfungsi sebagai bahan bakar konsistensi. Ketika aksi sosial mereka diapresiasi, tercipta efek domino atau viralitas yang menginspirasi rekan sebayanya.
Namun, tanpa wadah formal, validasi ini hanya berakhir sebagai likes dan views di media sosial yang rawan terjebak pada pencitraan kosong.
Di sinilah negara harus hadir. Hari Relawan Nasional diperlukan bukan sekadar untuk seremonial potong tumpeng, melainkan sebagai bentuk legitimasi negara.
Dengan menetapkan satu hari nasional, negara mengubah "pencarian validasi" tersebut menjadi "pengakuan prestasi". Ini memberikan sinyal bahwa menjadi relawan adalah jalur terhormat yang diakui republik, setara dengan profesi lainnya.
Pengakuan formal ini akan mendorong Gen Z untuk tidak hanya sekadar membuat konten sosial, tetapi membangun dampak yang terukur, berkelanjutan, dan berintegritas.
Investasi Kultural
Hari Relawan Nasional harus kita maknai sebagai investasi kultural. Ia adalah momentum untuk menanamkan nilai-nilai gotong royong ke dalam kurikulum pendidikan, serta memberikan perlindungan hukum bagi relawan yang bertugas di area bencana.
Ini juga bisa menciptakan ekosistem di mana sektor privat dan publik bisa bersinergi mendanai inisiatif sosial.
Sudah saatnya Indonesia berhenti mengandalkan "autopilot" budaya gotong royong. Semangat ini perlu dirawat, diapresiasi, dan dirayakan.
Menetapkan Hari Relawan Nasional adalah langkah kecil bagi birokrasi, namun merupakan lompatan raksasa bagi keberlanjutan kemanusiaan di Tanah Air. Jangan biarkan generasi paling dermawan ini berjalan sendirian tanpa sapaan negara.
Muhammad Alfi Syahri adalah Founder & CEO Indonesia Aksi Relawan. Ia adalah penggerak sosial yang fokus pada pendidikan, pemberdayaan pemuda, dan penguatan komunitas.
Referensi:
Tinggalkan Komentar
Komentar