periskop.id - Dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Pariwisata, Rabu (21/1), anggota DPR Evita Nursanty menyoroti ketimpangan pariwisata nasional. Ia menyebut bahwa sekitar 70% wisatawan Indonesia, baik lokal maupun mancanegara, hanya berputar di tiga destinasi utama: Bali, Batam, dan Jakarta.
“Bali itu ya kan, nah dari statistik yang ada saya lihat 70% daripada wisatawan kita itu hanya dari 3 destinasi Bali, Kepri, Batam, dan Jakarta,” ujarnya.
Pernyataan Evita sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa Bali masih menjadi magnet utama pariwisata Indonesia. Pada 2024, Bali menerima lebih dari 5,2 juta kunjungan wisatawan mancanegara, atau hampir 40% dari total kunjungan nasional sebesar 13,9 juta.
Sementara itu, Batam mencatat 1,16 juta kunjungan wisman sepanjang Januari–November 2024, meningkat 8,23% dari tahun sebelumnya.
Jakarta, melalui Bandara Soekarno-Hatta, juga menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara dengan kontribusi lebih dari 1,9 juta kunjungan pada 2024 . Angka-angka ini menegaskan dominasi tiga destinasi tersebut dalam menyerap mayoritas kunjungan wisatawan.
Evita menilai kondisi ini menunjukkan pembangunan pariwisata di daerah lain masih tertinggal.
“Berarti kan pembangunan pariwisata di Indonesia ini di tempat lain itu masih ketinggalan. Bu Menteri, ini PR bagi Kementerian Pariwisata,” tegasnya.
Potensi besar destinasi seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Danau Toba, atau Mandalika belum mampu menyaingi dominasi Bali, Batam, dan Jakarta.
Data devisa pariwisata juga memperlihatkan ketimpangan. Pada 2024, devisa pariwisata Indonesia mencapai Rp243 triliun, namun 44% di antaranya masih terkonsentrasi di Bali. Artinya, hampir separuh keuntungan pariwisata nasional hanya dinikmati satu daerah, sementara destinasi lain belum optimal dalam menarik wisatawan.
Ketimpangan ini berdampak pada distribusi ekonomi dan pembangunan daerah. Daerah yang tidak menjadi pusat kunjungan wisatawan kesulitan mengembangkan infrastruktur, meningkatkan kualitas SDM pariwisata, dan memperkuat ekosistem lokal.
Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, mulai dari pesona bawah laut Sulawesi hingga tradisi budaya di Sumatra dan Kalimantan.
Tinggalkan Komentar
Komentar