periskop.id - Dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Pariwisata Rabu, (21/1), anggota DPR Athari Gauthi Ardi menyoroti persoalan serius terkait mahalnya harga tiket pesawat domestik. Ia menegaskan bahwa tiket Jakarta-Bali kini bisa tembus hingga Rp8 juta untuk perjalanan pulang-pergi.
“Saya kemarin cek tiket, harga tiket ke Singapura itu sekali jalan Rp2 juta, ke Bali Rp4 juta. Sekali jalan. Saya bolak-balik pesan tiket ke Bali itu Rp8 juta, Rp7 juta sampai Rp8 juta,” ujarnya.
Athari membandingkan kondisi tersebut dengan tiket internasional yang justru lebih murah. Menurutnya, perjalanan Jakarta-Singapura hanya membutuhkan sekitar Rp4 juta untuk pulang-pergi. Perbedaan harga yang mencolok ini membuat wisatawan domestik merasa kurang tertarik untuk berlibur di dalam negeri.
“Ke Singapura saya bolak-balik kemarin lihat tiket hanya 4 juta. Nah itu, jadi ini harga-harga tiket ini yang sepertinya kurang menggiurkan bagi wisatawan nasional untuk berwisata dalam negeri,” lanjut Athari. Pernyataan ini mencerminkan keresahan masyarakat yang mendapati biaya penerbangan domestik lebih tinggi dibandingkan destinasi luar negeri yang jaraknya relatif sama.
Fenomena mahalnya tiket pesawat domestik berdampak langsung pada lesunya minat wisatawan dalam negeri. Alih-alih memilih Bali atau destinasi lain di tanah air, banyak wisatawan kini beralih ke negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Selain tiket yang lebih terjangkau, negara-negara tersebut menawarkan paket wisata yang dianggap lebih “worth it” oleh masyarakat.
Athari menekankan perlunya koordinasi lintas kementerian untuk mengatasi masalah ini.
“Saya rasa ini Bu Menteri perlu dikoordinasikan dengan stakeholder terkait dari juga kementerian, dari kementerian perhubungan juga perlu disampaikan apakah ada subsidi atau bagaimana,” katanya.
Usulan ini menyoroti pentingnya intervensi pemerintah agar harga tiket domestik tidak semakin memberatkan wisatawan.
Harga tiket yang tinggi bukan hanya mengurangi minat wisatawan, tetapi juga berpotensi menekan sektor pariwisata nasional. Bali, yang selama ini menjadi ikon pariwisata Indonesia, bisa kehilangan daya tariknya jika biaya perjalanan terus melambung.
Dampaknya tentu akan terasa pada pelaku usaha lokal, mulai dari hotel, restoran, hingga UMKM yang bergantung pada kunjungan wisatawan domestik.
Tinggalkan Komentar
Komentar