periskop.id – Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menyoroti ketimpangan prestasi pariwisata nasional yang masih didominasi Bali, sedangkan 10 destinasi prioritas atau "Bali Baru" minim pengakuan global. Ia menilai branding destinasi super prioritas belum efektif menembus radar internasional meski anggaran besar telah digelontorkan.
Legislator ini mengungkapkan keprihatinannya karena destinasi unggulan pemerintah seperti Danau Toba hingga Mandalika justru absen dari daftar penghargaan media internasional bergengsi.
"Ternyata 10 (Bali Baru) ini praktis Likupang, Bangka Belitung, Toba, Morotai, Wakatobi, Raja Ampat, Bromo tidak masuk dalam radar penghargaan yang diberikan oleh New York Times, National Geographic, Financial Times, Forbes dan lain-lain," tegasnya dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata, Rabu (4/2).
Samuel membedah data pencapaian Kementerian Pariwisata sepanjang tahun lalu yang mengklaim menerima total 154 penghargaan. Dari jumlah tersebut, mayoritas apresiasi dunia internasional masih tertuju pada Pulau Dewata.
Ia merinci sebaran penghargaan tersebut. Jawa Tengah mengantongi delapan penghargaan termasuk Borobudur, Jawa Timur hanya satu, Lombok tiga, Nusa Tenggara Timur (NTT) sepuluh, dan Jakarta delapan.
"Terbesar ada pada Bali, yaitu 41 penghargaan," jelasnya.
Situasi ini dinilai ironis mengingat pemerintah gencar mempromosikan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP). Samuel mempertanyakan strategi kementerian mengangkat status destinasi selain Bali agar mampu bersaing di panggung dunia.
Menurutnya, pengakuan dari institusi kredibel seperti Michelin Guide atau UN Tourism bukan sekadar piala, melainkan alat promosi konkret penarik wisatawan mancanegara.
"Bagaimana caranya supaya kita bisa membantu mengangkat berbagai daerah lainnya agar masuk di dalam radar internasional," tanyanya.
Ketimpangan prestasi dan popularitas destinasi ini rupanya berbanding lurus dengan data aliran modal yang dipaparkan pemerintah, di mana investasi pariwisata pun masih menumpuk di wilayah-wilayah yang sudah mapan.
Realisasi Investasi Pariwisata
Merespons kritik tersebut, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardana memaparkan data kinerja keuangan sektor ini. Ia mengklaim terdapat lonjakan signifikan arus modal masuk ke sektor pariwisata.
Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi pariwisata tercatat mencapai angka fantastis. Capaian ini diklaim melampaui target moderat yang ditetapkan sebelumnya.
"Kami menyampaikan untuk satu tahun penuh telah tercapai sebesar Rp73,56 triliun untuk investasi," ungkapnya.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 56,05% dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Namun, Widiyanti mengakui pola sebaran investasi masih terpusat di wilayah tertentu.
Dari total Rp73,56 triliun, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi sebesar 71,7%, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) menyumbang 28,3%.
Secara geografis, investor masih menjadikan Pulau Jawa sebagai primadona dengan porsi 51,8%, disusul Bali sebesar 21,8%. Wilayah luar Jawa dan Bali, termasuk lokasi "Bali Baru", hanya mendapat porsi 26,3% atau setara Rp19,37 triliun.
"PMDN utamanya berlokasi di Jawa Barat, PMA utamanya di Bali," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar