Periskop.id – Hotel bintang tiga masih menjadi pilihan utama bagi wisatawan domestik yang menginap di Jakarta. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan tren ini bertahan dalam beberapa bulan terakhir, meski tingkat hunian hotel mengalami fluktuasi.

Berdasarkan data Maret 2026, proporsi tamu Indonesia yang memilih hotel bintang tiga mencapai 32,66%. Angka ini sedikit menurun dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 35,97%, namun tetap menjadi kategori hotel paling diminati.

"Sementara tamu asing cenderung memilih hotel bintang empat dengan proporsi mencapai 42,31%," kata Kepala BPS DKI Jakarta Kadarmanto di Jakarta, Senin (4/5). 

Secara keseluruhan, tamu domestik masih mendominasi pasar perhotelan di ibu kota. Pada Maret 2026, jumlah tamu Indonesia mencapai 90,26% dari total tamu hotel, jauh lebih besar dibandingkan tamu asing yang hanya 9,74%.

Di sisi lain, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Jakarta tercatat sebesar 43,97%. Angka ini mengalami penurunan 7,75 poin dibandingkan Februari 2026. Namun secara tahunan justru meningkat 5,71 poin dibandingkan Maret tahun sebelumnya.

Tren berbeda terlihat pada hotel non-bintang dan akomodasi lainnya. TPK di segmen ini hanya mencapai 34,65% dan mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan.

"Secara bulanan, angka ini turun sebesar 1,36 % poin dan secara tahunan, ini turun sebesar 1,66% poin," ujar Kadarmanto.

Durasi menginap juga relatif stabil. Rata-rata lama tinggal tamu di hotel bintang tercatat 1,60 malam pada Maret 2026, sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya, namun turun tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk hotel non-bintang, rata-rata lama menginap berada di angka 1,34 malam.

Fenomena ini mencerminkan karakter pasar wisata domestik yang cenderung mencari keseimbangan antara harga dan fasilitas. Hotel bintang tiga dinilai mampu memenuhi kebutuhan tersebut, terutama bagi pelaku perjalanan bisnis dan wisatawan urban.

Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) juga menunjukkan, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) terus mendominasi sektor pariwisata nasional. Sepanjang 2025, jumlah perjalanan wisnus mencapai lebih dari 800 juta perjalanan, menjadi penopang utama industri perhotelan di berbagai kota besar termasuk Jakarta.

Selain itu, laporan STR Global menyebutkan bahwa tren hunian hotel di Asia Tenggara mulai pulih pascapandemi, dengan peningkatan permintaan yang didorong oleh perjalanan domestik dan kegiatan bisnis.

Dengan dominasi pasar domestik dan preferensi pada hotel kelas menengah, pelaku industri perhotelan di Jakarta diperkirakan akan terus menyesuaikan strategi harga dan layanan untuk mempertahankan tingkat okupansi di tengah dinamika permintaan.

Perkuat Daya Saing
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta optimistis kehadiran hotel baru berstandar internasional, dapat memperkuat daya saing sektor pariwisata dan hospitality.

“Kehadiran hotel bertaraf internasional yang dikelola Accor ini diharapkan memperkuat sektor pariwisata sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Jakarta Barat,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung beberapa waktu lalu. 

Pramono meresmikan Hotel Mercure Jakarta Grogol di kawasan Grogol Petamburan dan meyakini investasi ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas. Menurutnya, hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.

“Kerja sama dengan UMKM setempat akan terus dikembangkan agar manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata dia.

Selain itu, lokasi hotel yang strategis dinilai menjadi keunggulan tersendiri dalam menarik wisatawan maupun pelaku perjalanan bisnis. “Hotel ini juga turut memperkuat posisi Jakarta sebagai kota bisnis dan destinasi wisata yang kompetitif,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi kontribusi investor dan operator dalam mengembangkan sektor hospitality di Jakarta, serta menilai investasi ini berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurut Pramono, konsep hotel yang mengangkat budaya Betawi juga menjadi nilai tambah dalam memperkenalkan identitas lokal kepada wisatawan. “Tidak hanya sebagai tempat menginap, tetapi juga ruang promosi budaya dan produk lokal,” tandasnya.