Periskop.id — Jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta pada April 2026 tercatat 8,74 juta perjalanan, turun 19,97% dibandingkan bulan sebelumnya. Meski kunjungan pelancong domestik melemah, tingkat penghunian kamar hotel bintang di ibu kota justru meningkat dan menembus 54,80%.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan penurunan jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta pada April terutama dipengaruhi oleh berakhirnya periode arus mudik pada Maret 2026.
"Begitu pula secara tahunan, turun sebesar 17,44%," kata Kadarmanto di Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut Kadarmanto, secara bulanan, penurunan perjalanan wisatawan nusantara terjadi karena momentum besar pergerakan masyarakat pada periode mudik telah selesai. Sementara secara tahunan, penurunan dipengaruhi perbedaan waktu arus mudik antara 2025 dan 2026.
Pada 2025, arus mudik terjadi pada Maret. Sementara pada 2026, arus mudik berlangsung pada April. Perbedaan kalender tersebut membuat pola perjalanan masyarakat ikut bergeser, termasuk perjalanan menuju Jakarta.
Sebelumnya, BPS DKI Jakarta mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara ke Jakarta pada Maret 2026 mencapai 8,62 juta perjalanan dan naik 15,54% secara tahunan. Tingkat penghunian kamar hotel bintang pada Maret 2026 tercatat 43,97%, sedangkan hotel nonbintang dan akomodasi lainnya sebesar 34,65 %. Data ini menunjukkan April menjadi periode koreksi perjalanan, tetapi tidak sepenuhnya menekan sektor akomodasi.
Di antara wilayah administrasi Jakarta, Jakarta Selatan menjadi tujuan favorit wisatawan nusantara pada April 2026 dengan kontribusi 28,10%. Kadarmanto menilai kawasan ini memiliki daya tarik yang lebih beragam dibandingkan wilayah lain, mulai dari destinasi wisata, pusat kuliner, pusat belanja, hingga kawasan hiburan.
"Jakarta Selatan memiliki lokasi wisata yang banyak, kemudian pusat kulinernya juga banyak, dan juga pusat-pusat destinasi lainnya dibanding dengan wilayah Jakarta yang lain," ujar Kadarmanto.
Setelah Jakarta Selatan, posisi kedua ditempati Jakarta Pusat dengan kontribusi 20,42%. Selanjutnya, Jakarta Timur menyumbang 19,48%, Jakarta Barat sebesar 16,32%, Jakarta Utara sebesar 15,16%, dan Kepulauan Seribu sebesar 0,52%.
Komposisi tersebut menunjukkan pergerakan wisatawan nusantara di Jakarta masih banyak terkonsentrasi di kawasan perkotaan yang memiliki kombinasi aktivitas wisata, kuliner, belanja, dan kegiatan bisnis. Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat tetap menjadi magnet utama karena memiliki pusat kegiatan ekonomi, hiburan, serta akses transportasi yang relatif kuat.
Meski jumlah perjalanan wisatawan nusantara turun, kinerja hotel di Jakarta menunjukkan perbaikan. BPS DKI mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang pada April 2026 mencapai 54,80%. Angka ini naik 10,83% poin dibandingkan Maret 2026.
"Juga secara tahunan, naik sebesar 7,94% poin dibandingkan pada bulan April 2025," tutur Kadarmanto.
Kenaikan juga terjadi pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. TPK hotel nonbintang pada April 2026 tercatat 38,09%, naik 3,44% poin secara bulanan dan meningkat tipis 0,05% poin secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan, penurunan perjalanan wisatawan nusantara tidak selalu berbanding lurus dengan melemahnya okupansi hotel. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah perjalanan yang terjadi pada April lebih banyak melibatkan tamu yang membutuhkan akomodasi, termasuk perjalanan bisnis, agenda kegiatan, kunjungan keluarga, atau wisata kota dengan durasi singkat.
Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Jakarta pada April 2026 tercatat 1,60 malam. Artinya, mayoritas tamu menginap sekitar satu hingga dua malam. "Artinya, para tamu menginap itu antara 1 sampai 2 malam," ungkap Kadarmanto.
Angka tersebut naik sangat tipis dibandingkan Maret 2026, yakni kurang dari 0,01 poin, tetapi turun 0,05 poindibandingkan April 2025. Sementara itu, rata-rata lama menginap di hotel nonbintang dan akomodasi lainnya tercatat 1,33 malam, turun 0,01 poin secara bulanan dan turun 0,03 poin secara tahunan.
Tamu Hotel
Dari sisi asal tamu, hotel bintang di Jakarta masih didominasi tamu domestik. Proporsi tamu Indonesia mencapai 88,93%, sedangkan tamu asing sebesar 11,07%. Kadarmanto menjelaskan, hotel bintang tiga menjadi pilihan utama tamu Indonesia. Sementara tamu asing lebih banyak memilih hotel bintang empat.
"Hotel bintang tiga masih menjadi favorit bagi tamu Indonesia yang dengan proporsi sebesar 34,6%. Sedangkan, tamu asing cenderung menginap di hotel bintang empat yang mencapai 43,12%," jelasnya.
Secara nasional, sektor pariwisata Indonesia pada awal 2026 masih menunjukkan dinamika yang kuat. Kementerian Pariwisata mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Januari 2026 mencapai 102,04 juta perjalanan. Angka ini menjadi Gambaran, pergerakan wisata domestik tetap besar, meski pola perjalanan dapat berubah mengikuti kalender libur, mudik, harga transportasi, dan agenda daerah.
Selain faktor mudik, biaya transportasi juga berpotensi memengaruhi pola perjalanan masyarakat. Pada April 2026, BPS DKI Jakarta mencatat inflasi bulanan Jakarta sebesar 0,21%, dengan kelompok transportasi menjadi penyumbang utama.
Tarif angkutan udara dan bensin menjadi komoditas yang memberi andil terhadap inflasi transportasi pada bulan tersebut. Kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk bepergian.
Namun, naiknya okupansi hotel menunjukkan Jakarta masih memiliki daya tarik sebagai kota tujuan kegiatan. Selain wisata, Jakarta juga menjadi pusat bisnis, pemerintahan, MICE, kuliner, hiburan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Kombinasi ini membuat permintaan akomodasi tetap bergerak meskipun perjalanan wisatawan nusantara secara agregat menurun.
Ke depan, tantangan pariwisata Jakarta adalah menjaga keseimbangan antara destinasi wisata kota dan kebutuhan akomodasi. Pemerintah daerah perlu memperkuat promosi kawasan unggulan, meningkatkan kualitas transportasi menuju destinasi, memperbanyak agenda seni dan budaya, serta mengembangkan paket wisata urban yang dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Kepulauan Seribu yang kontribusinya baru 0,52% juga masih memiliki ruang pertumbuhan besar sebagai destinasi bahari Jakarta. Dengan penguatan akses, kebersihan, fasilitas wisata, serta promosi yang tepat, kawasan tersebut berpotensi menarik lebih banyak wisatawan domestik, terutama saat akhir pekan dan libur panjang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar