Periskop.id - Dunia pendidikan internasional kembali dikejutkan dengan rilis data terbaru dari World Top 20 Project yang memetakan negara-negara dengan sistem pendidikan paling unggul di planet ini.
Berdasarkan pemeringkatan tersebut, Korea Selatan mengukuhkan posisinya sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik nomor satu di dunia. Sementara itu, Indonesia masih harus berjuang keras di peringkat ke 67, tertinggal cukup jauh dari negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura dan Vietnam.
Pemeringkatan ambisius ini tidak dilakukan secara sembarang. World Top 20 Project menggunakan sepuluh tingkat perkembangan sebagai parameter penilaian yang komprehensif.
Indikator tersebut meliputi tingkat pendaftaran anak usia dini (usia 3 hingga 4 tahun), penyelesaian pendidikan dasar, penyelesaian pendidikan menengah pertama, hingga tingkat kelulusan sekolah menengah atas.
Selain itu, poin penilaian juga mencakup tingkat kelulusan perguruan tinggi, skor ujian sekolah dasar dan menengah, tingkat keamanan sekolah, angka putus sekolah, hingga tingkat buta huruf orang dewasa.
Berikut adalah daftar 20 negara teratas dengan sistem pendidikan terbaik di dunia:
- Korea Selatan
- Jepang
- Jerman
- Prancis
- Slovenia
- Swedia
- Italia
- Finlandia
- Belanda
- Polandia
- Irlandia
- Lituania
- Meksiko
- Norwegia
- Britania Raya
- Belgia
- Rusia
- Latvia
- Ceko
- Argentina
Rahasia di Balik Keperkasaan Korea Selatan
Keberhasilan Korea Selatan dalam memuncaki daftar ini bukanlah sebuah kebetulan. Negara ini memiliki harapan lama sekolah yang sangat tinggi, yakni mencapai 16,6 tahun.
Selain itu, bukti keunggulan mereka tercermin jelas dalam skor Programme for International Student Assessment (PISA). Korea Selatan menempati peringkat tiga dengan skor PISA tertinggi di dunia.
Dalam kategori matematika, Korea Selatan meraih skor 527, jauh melampaui rata-rata negara anggota OECD yang berada di angka 472. Pada aspek membaca, skor mereka mencapai 515 dibanding rata-rata OECD sebesar 476. Sedangkan pada bidang sains, skor sebesar 528 diraih, mengungguli rata-rata OECD yang hanya sebesar 485.
Akar keberhasilan ini tertanam dalam budaya Konfusianisme yang menempatkan pendidikan sebagai status sosial tertinggi. Di Negeri Gingseng tersebut, pendidikan dianggap sebagai satu satunya jalur pasti untuk mobilitas vertikal atau memperbaiki nasib serta mengangkat martabat keluarga. Faktor ini menciptakan motivasi yang luar biasa besar baik dari pihak orang tua maupun siswa.
Dari sisi fiskal, pemerintah Korea Selatan sangat serius dengan mengalokasikan sekitar 5% dari PDB untuk sektor pendidikan. Dana besar ini digunakan untuk membangun sekolah dengan fasilitas modern, memperbarui kurikulum secara berkala, dan mengembangkan teknologi pembelajaran digital mutakhir.
Salah satu penyebab utama tingginya kualitas pendidikan di Korea Selatan adalah posisi sosial dan kesejahteraan para pengajarnya. Melansir laman Guru Berdaya, gaji guru di Korea Selatan termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Rata rata guru sekolah menengah mendapatkan US$53.505 per tahun atau setara dengan Rp900,92 juta (berdasarkan kurs 26 Januari 2026).
Kompensasi yang tinggi ini diimbangi dengan seleksi yang sangat ketat melalui ujian kompetensi nasional dan pelatihan berkelanjutan. Hal ini membuat profesi guru menjadi sangat dihormati dan hanya diisi oleh talenta talenta terbaik bangsa.
Selain kualitas pengajar, kedisiplinan siswa diuji melalui College Scholastic Ability Test (CSAT) atau Suneung. Ujian masuk universitas ini merupakan salah satu ujian akademik paling sulit di dunia yang berlangsung selama 8 jam dalam sehari.
Hasil ujian ini menjadi penentu masa depan, di mana skor tinggi akan membuka pintu menuju universitas bergengsi seperti Seoul National University (SNU), KAIST, dan Yonsei University.
Potret Buram Pendidikan di Indonesia
Kontras dengan Korea Selatan, Indonesia berada di urutan ke 67 dunia. Posisi ini berada di bawah Singapura yang menempati peringkat 22 dan Vietnam di posisi 53. Harapan lama sekolah di Indonesia tercatat hanya 12,9 tahun.
Skor PISA Indonesia juga menunjukkan ketertinggalan yang signifikan. Skor matematika Indonesia berada di angka 366, sangat jauh di bawah rata rata OECD sebesar 472. Skor membaca tercatat sebesar 359 (rata-rata OECD 476) dan skor sains sebesar 383 (rata-rata OECD 485).
Terdapat beberapa faktor sistemis yang menjadi penyebab rendahnya peringkat Indonesia:
- Kesejahteraan Guru yang Rendah: Berdasarkan data dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) yang dilansir oleh Antara, sebanyak 74 persen guru honorer di Indonesia masih digaji di bawah Upah Minimum Kabupaten atau Kota (UMK).
Hal ini berbanding terbalik dengan kebijakan di Korea Selatan yang sangat menghargai profesi guru secara finansial. - Ketidakstabilan Kebijakan: Munculnya istilah "Ganti Menteri, Ganti Kurikulum" menggambarkan betapa cepatnya perubahan kebijakan yang membuat para pengajar di lapangan mengalami kebingungan.
Fokus pendidikan juga dinilai masih terjebak pada metode hafalan daripada pengembangan berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah. - Fasilitas yang Belum Merata: Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sebaran fasilitas pendidikan masih timpang.
Meski terdapat 72.490 desa yang telah memiliki fasilitas SD, tantangan besar muncul pada tingkat pendidikan menengah. Hanya 39.175 desa yang memiliki fasilitas SMP, 18.477 desa memiliki SMA, dan hanya 11.014 desa yang memiliki SMK.
Ketimpangan ini memaksa banyak anak di daerah pedesaan untuk menempuh perjalanan jauh atau tinggal jauh dari keluarga hanya untuk melanjutkan sekolah menengah.
Tinggalkan Komentar
Komentar