Periskop.id - Dunia pendidikan tinggi di Amerika Serikat tengah menghadapi fenomena yang mengejutkan. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa mahasiswa generasi Z datang ke universitas dengan kemampuan membaca yang sangat lemah. 

Kondisi ini begitu memprihatinkan hingga sebagian mahasiswa dilaporkan tidak mampu memahami makna dari satu kalimat utuh, sebuah fakta yang memaksa para pengajar untuk mengubah total metode instruksional mereka di dalam kelas.

Melansir pemberitaan dari New York Post pada Jumat (23/1), para pengajar di berbagai universitas ternama, termasuk program-program unggulan, mulai menyuarakan kekhawatiran mereka. 

Para dosen mengaku terpaksa merombak kurikulum dan gaya mengajar demi menyesuaikan diri dengan mahasiswa yang kini lebih terbiasa dengan konten visual TikTok daripada teks cetak.

Lumpuhnya Kemampuan Memproses Teks

Jessica Hooten Wilson, seorang profesor great books di Pepperdine University, memberikan kesaksian yang cukup pedas mengenai realitas di ruang kelas saat ini. Menurutnya, masalah yang dihadapi bukan lagi sekadar penurunan kualitas analisis, melainkan hambatan pada tingkat dasar membaca.

“Ini bahkan bukan soal ketidakmampuan berpikir kritis. Ini ketidakmampuan membaca kalimat,” kata Jessica Hooten Wilson kepada Fortune.

Kondisi ini memaksa Wilson untuk melakukan langkah yang tidak biasa bagi level perguruan tinggi. Ia kini harus membacakan bagian-bagian teks dengan suara keras di depan kelas dan melakukan analisis baris demi baris agar mahasiswa bisa mengikuti materi. Ia juga perlu mengulang pembacaan puisi dan teks secara berkala di sepanjang semester.

“Saya merasa seperti harus jungkir balik dan membacakan teks, karena hampir tidak mungkin ada yang membacanya malam sebelumnya. Bahkan ketika dibacakan di kelas, ada begitu banyak hal yang tidak bisa mereka proses dari kata-kata yang tertulis di halaman,” ujarnya menambahkan.

Fenomena "Pembaca Pemula" di Kampus Elit

Masalah ini ternyata tidak hanya terjadi di kampus biasa, tetapi juga merambah ke institusi elit. Di Kellogg School of Management milik Northwestern University, yang dikenal sebagai salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia, gejalanya serupa. 

Seorang dosen mengungkapkan bahwa hingga setengah dari total mahasiswa di setiap semester mendeskripsikan diri mereka sebagai pembaca pemula atau orang yang enggan membaca.

Para akademisi mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memicu degradasi kemampuan literasi pada generasi saat ini. Pertama, ketergantungan yang tinggi pada ponsel dan konsumsi media sosial berbasis video pendek telah secara sistematis membentuk rentang perhatian yang jauh lebih singkat. 

Selain itu, hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat mahasiswa cenderung mengandalkan ringkasan instan untuk memahami bacaan secara cepat. 

Hal ini diperparah oleh sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada tes standar, sehingga siswa hanya terbiasa memindai teks demi menemukan poin kunci tertentu alih-alih melakukan pembacaan secara mendalam dan menyeluruh.

Timothy O’Malley, profesor teologi di University of Notre Dame, menyebutkan bahwa generasi ini telah kehilangan kemampuan untuk melakukan pembacaan panjang yang mendalam. “Mereka dibentuk dalam pendekatan membaca ala pemindaian,” katanya kepada Fortune.

Dampak AI dan Penurunan Minat Baca Nasional

O’Malley menambahkan bahwa mahasiswa saat ini sangat bergantung pada AI untuk mendapatkan ringkasan cepat ala CliffsNotes. Sayangnya, ringkasan tersebut sering kali menghilangkan nuansa, keindahan bahasa, dan poin-poin terpenting dari sebuah bacaan. 

Jika pada awal kariernya ia bisa memberikan tugas bacaan sebanyak 25 hingga 40 halaman per pertemuan, kini instruksi serupa justru membuat mahasiswa bingung.

“Hari ini, jika memberi bacaan sebanyak itu, mereka sering tidak tahu harus berbuat apa,” ujarnya.

Data statistik mendukung kekhawatiran para dosen ini. Sebuah studi dari YouGov menunjukkan bahwa hampir separuh warga Amerika tidak membaca satu buku pun sepanjang tahun 2025. Di segmen usia 18 hingga 29 tahun, rata-rata jumlah buku yang dibaca hanya mencapai 5,8 buku dalam setahun.

Antara "Memanjakan" dan Efektivitas Belajar

Menanggapi krisis ini, muncul perdebatan mengenai metode mengajar. Sebagian pengkritik menilai penyederhanaan metode membaca sebagai bentuk memanjakan mahasiswa (coddling). Namun, beberapa dosen memilih pendekatan yang lebih lunak agar mahasiswa tetap mau terlibat.

Brad East, profesor teologi di Abilene Christian University, berpendapat bahwa pengurangan tekanan pada nilai dapat memicu minat baca. “Bagi saya, ujian kumulatif yang penuh tekanan tidak penting, dan saya juga tidak terlalu peduli dengan inflasi nilai. Saya ingin mereka belajar,” tutur East kepada Fortune.

Di sisi lain, Jessica Hooten Wilson mengingatkan bahwa dampak dari menurunnya literasi ini jauh lebih luas daripada sekadar urusan karier atau nilai akademis. Literasi yang buruk dianggap berkaitan erat dengan masalah sosial yang lebih besar.

“Saya pikir polarisasi, kecemasan, kesepian, kurangnya pertemanan—semua itu terjadi ketika kita tidak memiliki masyarakat yang membaca bersama,” ujar Wilson. 

Menurutnya, kemampuan membaca bersama adalah fondasi untuk membangun komunitas yang sehat dan saling memahami.