Periskop.id - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melepas 10.000 mahasiswa relawan bencana Sumatera dari berbagai perguruan tinggi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut terjun langsung mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Baharuddin di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (29/1) mengatakan, pelepasan 10 ribu mahasiswa relawan bencana Sumatera itu dilakukan secara simbolis oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman di Auditorium Unimed.

Kegiatan tersebut, kata dia, bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebagai upaya memastikan keberlanjutan kolaborasi dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak. Ia menyebutkan, keterlibatan mahasiswa juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan jangka pendek.

"Keterlibatan universitas negeri dan swasta, politeknik, serta institusi kesehatan, dalam program itu menunjukkan bahwa upaya pemulihan bencana membutuhkan kolaborasi lintas institusi dan pendekatan multidisipliner, mulai dari pendidikan, kesehatan, teknologi, hingga pemberdayaan sosial masyarakat," bebernya, 

Setiap kelompok mahasiswa yang diturunkan ke daerah bencana, didampingi oleh tim dosen pembimbing yang memiliki kompetensi riset dan inovasi. Dengan begitu, penerapan teknologi di lapangan tetap berbasis kajian ilmiah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Selanjutnya ia menyampaikan, pihaknya menyesuaikan kebutuhan daerah terdampak dengan jumlah mahasiswa yang diturunkan. Penyebaran mahasiswa terbanyak di Aceh yakni di Kabupaten Aceh Tamiang, sementara di Sumatera Utara ada di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan di Sumatera Barat adalah di Kabupaten Agam.

Penerapan Inovasi

Salah satu kekuatan utama program itu adalah penerapan inovasi teknologi tepat guna. Inovasi yang dibawa mahasiswa merupakan hasil riset perguruan tinggi yang disesuaikan dengan kondisi riil masyarakat, bukan solusi generik yang sulit diterapkan di lapangan.

Sebelumnya, program yang diperkenalkan adalah Program Mahasiswa Berdampak yang mengintegrasikan kegiatan KKN dengan pendanaan proposal mahasiswa, agar terlibat langsung dalam proses pemulihan di daerah terdampak. Adapun total anggarannya mencapai Rp18 miliar hingga Rp20 miliar kepada 150 proposal, dengan pendanaan maksimal Rp120 juta per proposal.

Ia juga juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif, termasuk melalui media nasional dan konten edukasi, agar pemulihan dapat dipahami dan didukung oleh masyarakat luas.

Sejalan dengan arahan tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) Muryanto Amin menegaskan, pembentukan konsorsium ini sebagai tindak lanjut dari berbagai diskusi antar pimpinan perguruan tinggi sebelumnya.

"Kita ingin memastikan kerja perguruan tinggi pascabencana ini punya acuan bersama yang sudah ada. Perlu ada rule book, komitmen, dan pembagian peran yang jelas, supaya upaya pemulihan bisa berjalan lebih cepat," ucapnya.

Sementara Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah menyampaikan komitmen UI, dalam mendukung penanganan bencana melalui berbagai program yang telah dijalankan secara berkelanjutan.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan pendidikan bagi masyarakat terdampak bencana, termasuk kemudahan akses dan pendampingan administrasi pendidikan bagi peserta didik. "Pemulihan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi memastikan anak-anak dan generasi muda tetap bisa melanjutkan pendidikan mereka dengan baik," tutur Heri Hermansyah.