periskop.id – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Firman Soebagyo mengkritik keras penerapan metode pembelajaran daring atau online bagi siswa sekolah dasar karena dinilai memicu kerusakan mental dan membuka celah akses pornografi.

“Bahkan kemarin ada salah satu teman di komisi yang terkejut karena cucunya asik melihat handphone, dikirain belajar enggak, taunya dibuka itu adalah gambar-gambar mesum. Itu luar biasa,” kata Firman dalam Audiensi Baleg DPR dengan PGRI di Senayan, Senin (2/2).

Politisi Partai Golkar ini secara terang-terangan mengaku bersikap frontal menolak digitalisasi pendidikan di tingkat dasar. Ia menilai risiko penggunaan gawai pada anak usia dini jauh lebih besar daripada manfaatnya.

“Saya termasuk yang akhir-akhir ini agak frontal, kurang setuju dengan pendidikan menggunakan online, karena itu akan merusak mental anak kita,” ujarnya.

Firman menceritakan pengamatan pribadinya terhadap perilaku anak-anak saat memegang gawai. Tanpa pengawasan ketat, mereka cenderung mengeksplorasi platform video yang menyajikan konten beragam dan sulit terkontrol.

“Cucu-cucu saya, Prof, itu kalau sudah menggunakan handphone itu bisa membuka Youtube yang macam-macam,” ungkapnya.

Demi menyelamatkan moral generasi bangsa, Firman tidak keberatan jika pola pikirnya dianggap mundur. Ia menyarankan sistem pendidikan dasar kembali mengutamakan metode konvensional dengan fisik buku.

“Sistem pendidikan dasar, saya kurang setuju dengan menggunakan ini (online). Tapi kebaikan secara konvensional, menggunakan buku,” tuturnya.

Keunggulan buku fisik menurutnya tidak hanya pada fokus belajar, tetapi juga aspek keberlanjutan. Buku cetak memiliki nilai guna jangka panjang yang tidak dimiliki oleh materi digital yang tersimpan di gawai.

“Buku itu bisa dibawa pulang, bahkan buku itu bisa menjadi diturunkan kepada adik yang dikemudian hari, seperti waktu saya kecil,” tambahnya.

Legislator ini mengingatkan pemanfaatan teknologi memang memiliki sisi positif. Namun, ketidaktepatan penggunaan pada usia yang belum matang justru menjadi bumerang bagi pembentukan karakter anak.

“Karena kalau menggunakan ini, di sisi lain positif, tapi ketika mereka itu pemanfaatnya tidak tepat, itu menjadi tidak baik,” pungkasnya.