periskop.id - Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh Tim Olimpiade Biologi Indonesia (TOBI) dalam ajang Open International Biology Olympiad (OIBO) 2026 yang berlangsung di Pusat Edukasi Sirius, Rusia, pada 15–22 Mei. Kompetisi bergengsi ini diikuti sekitar 100 siswa dari 18 negara dan menjadi panggung pembuktian kemampuan generasi muda Indonesia di bidang biologi.
Melansir Antara, Sabtu (23/5), dalam kompetisi tersebut TOBI berhasil meraih tujuh medali. Derickson Lee dari SMAS Mondial Batam menyumbangkan satu medali emas, sementara empat medali perak diraih oleh Afrand Mirza Herwinsyah dan Faiq Ismael dari SMAN 8 Jakarta, Keisya Dhindra Prabowo dari SMA ABBS Surakarta, serta Chynthia Wibowo dari SMAK BPK Penabur Kota Tangerang. Brevin Lois Surbakti dari SMP Swasta Methodist-2 Medan menambah koleksi dengan satu medali perunggu. Tak hanya itu, Indonesia juga membawa pulang medali emas kategori proyek tim.
Agus Dana Permana, pendamping delegasi Indonesia, menjelaskan bahwa kompetisi ini menguji ketahanan dan kecakapan peserta melalui ujian teori selama empat jam serta praktikum biologi tingkat lanjut.
“Tim Indonesia dinilai unggul dalam pengamatan ilmiah dan analisis biologi secara komprehensif melalui proyek identifikasi keragaman zooplankton di pesisir Laut Hitam,” ujarnya.
Ujian praktikum yang dihadapi peserta mencakup biologi hewan dan biologi tumbuhan, masing-masing dengan durasi dua jam. Keberhasilan Indonesia dalam kategori proyek tim menunjukkan kekuatan kolaborasi dan kemampuan analisis yang mendalam.
Menariknya, keberangkatan delegasi Indonesia ke Rusia tahun ini dilakukan secara swadaya dengan dukungan finansial dari orang tua siswa. Meski menghadapi keterbatasan dana, para peserta tetap menunjukkan mental juara dan daya saing tinggi di panggung internasional. Agus menekankan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari seleksi nasional yang ketat serta pembinaan intensif oleh TOBI.
“Diharapkan keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus mengembangkan minat dan prestasi di bidang sains. Kami juga berharap keikutsertaan Indonesia pada ajang ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang dengan dukungan yang lebih kuat dari kementerian terkait maupun mitra sponsor,” tambahnya.
Selain meraih medali, para siswa Indonesia juga memanfaatkan kesempatan di kawasan sains modern Sirius untuk membangun jejaring internasional, memperluas wawasan global, dan berdiskusi lintas budaya dengan talenta biologi terbaik dunia. Hal ini sejalan dengan tren globalisasi pendidikan sains, di mana kolaborasi lintas negara menjadi kunci pengembangan riset dan inovasi.
Sebagai catatan, Indonesia sebelumnya juga pernah mencatat prestasi di ajang Olimpiade Biologi Internasional (IBO), termasuk dua medali emas pada 2022. Konsistensi ini menunjukkan bahwa pembinaan talenta sains di Indonesia semakin matang dan mampu bersaing dengan negara-negara maju.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar